What are you looking for?

Saturday, August 12, 2017

pria debu





Ah..pria itu lagi!

Aku kenal suara motor itu. Terlalu familiar di telingaku. Bagaimana tidak, nyaris lima kali dalam seminggu, kudengar suaranya mendekat. Lalu berhenti tepat di depan gerbang cokelat rumahku. Sesaat setelah itu, anjingku, Chocow, akan berlari dengan sigapnya dengan ekor yang bergoyang ke kanan dan kiri. Tanda bahwa ia mengenali pemilik motor buntut berwarna hijau tua itu.

Sungguh memuakkan!

Friday, July 14, 2017

The Apple to My Pie


“ Ibu sudah muak!! Ini peringatan terakhir untukmu. Pokoknya, besok pagi, Ibu tidak mau    melihat dia ada di rumah ini lagi. Titik.”

Wednesday, July 12, 2017

Pesisir Pantai di Bali : Pantai Kuta atau Pantai Sampah?


Bali sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia memang tidak pernah sepi oleh wisatawan.
Berbagai wisatawan dari mancanegara datang berbondong - bondong setiap hari hanya karena ingin tahu betapa indahnya pulau kita ini. Dari sekian banyak tempat tujuan wisata di Bali, sebagian besar akan menjadikan Kuta sebagai pilihan pertama. Kuta memang selalu identik dengan Bali, terutama Pantai Kuta. Kawasan ini tidak pernah sepi pengunjung.

Monday, July 3, 2017

Jika esok aku tiada

Jika esok aku tiada...
Semesta tak akan goyah pada porosnya
Karena ia kehilangan sebuah debu
Yang tak berbekas dalam kalbu

Saturday, July 1, 2017

Teruntuk kamu, teman hidupku kelak.





 

Hai,

Sedikit canggung, ya? Mmm..aku bingung bagaimana harus menyapamu.

Aku belum tahu bagaimana rupamu. Aku juga tak tahu siapa namamu. I have no idea who are you, but these are something I wanna tell you, something you have to know before you marry me. Read this carefully.

Mungkin saja kamu adalah teman SD,SMP, SMA, atau bahkan teman kuliahku? Atau mungkin kamu adalah orang yang pernah berpapasan denganku di tengah keramaian. Mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya? Mungkinkah kamu pernah bertanya tanya hal yang sama sepertiku? Ah, tentu tidak. Maaf ya, aku memang suka mempertanyakan hal yang tak perlu dipertanyakan. Lagi pula tidak penting.

Aku selalu bermimpi dipertemukan dengan laki laki idamanku, persis seperti pria yang aku baca di novel novel kesayanganku. Yang tampan, romantis, ada setiap saat, pintar, tinggi, intinya segala kesempurnaan ada pada dirinya. Tapi aku sadar, mereka itu fiksi. Tidak ada laki laki seperti itu di dunia nyata. Kenyataan itu memang payah, ya. Aku tidak akan menuntutmu menjadi seperti mereka. Karena aku tak sempurna, begitu juga kamu.

Mudah kok, mendapatkan hatiku.

Pertama, berpenampilan lah yang baik. Tentu hal pertama yang akan aku lihat darimu adalah fisik. Lets be honest, everyone do the same. Tak masalah jika hidungmu tak mancung, atau pipimu mengembung. Setidaknya ada sesuatu yang bisa aku cubit saat sedang kesal. Atau tak masalah jika kulitmu coklat tua. It looks adorable. Tapi, berpenampilan lah yang baik. Wanita suka laki - laki yang rapi.

Kedua, bekerjalah dengan giat. Suatu hari nanti, kamu tidak hanya menghidupiku. Kita punya seorang putri cantik dan seorang putra yang tampan yang harus dibiayai. Di masa yang akan datang, harga tanah pasti naik. Segala perlengkapan mahal. Bahan kebutuhan pokok mungkin akan melonjak. Jadi, bekerjalah dengan giat agar semua kebutuhan kita tercukupi
  
And the last. I beg you, please be faithful. Would you? :)

Okay, now it's my turn to explain myself. So you're not get surprised when we live together.

Aku bukanlah tipe wanita pencemburu. Aku akan memberikanmu kebebasan untuk bergaul dengan teman teman perempuanmu. Aku tak masalah bila kamu mengobrol, berfoto, berjabat tangan dengan mereka. Memang, ada rasa takut kalau kalau kamu direnggut oleh mereka. Tapi aku yakin, lelaki yang benar benar mencintaiku pasti tahu bagaimana harus bersikap pada perempuan lain. Juga tahu, ada batas batas yang tak boleh dilanggar.

Sama halnya seperti aku memberikan kebebasan padamu, jangan tanyakan padaku “mana yang lebih penting, keluarga atau karir?”  karena bagiku, keduanya penting. Aku menyayangi keluarga kecilku. Kamu, anak - anak kita. Aku juga suka bekerja, aku menyukai apa yang aku kerjakan. Jadi kuharap, kamu tidak membiarkanku menjadi wanita tidak berguna setelah bersusah payah mendapat gelar S2, lalu hanya berakhir menjadi ibu rumah tangga. Aku tak ingin jadi wanita yang menyusahkanmu. Aku ingin membantumu, bersama sama membesarkan anak kita. Aku janji, aku tak akan menelantarkan mereka. Aku akan mencari pekerjaan yang fleksibel, jika memungkinkan.

Aku akan belajar memasak makanan kesukaanmu, langsung dari ibumu. Aku yakin lidahmu sudah terhipnotis rasa masakan beliau selama bertahun tahun. Aku akan mempelajari resepnya. Jadi kamu tidak perlu membeli masakan di luar. Tapi tak apa, sesekali. Maafkan aku, ya, jika terkadang masakannya tak enak, keasinan, kurang manis, atau terlalu matang. Namanya juga baru belajar, hehe. Aku juga akan merawat diriku dengan baik. Aku akan belajar make up. Jadi kamu tak punya alasan untuk melirik wanita lain.
  
Aku memang sedikit ambisius. Aku tak akan menerimamu apa adanya. Maafkan aku ya, jika menuntutmu banyak hal. Aku tak mau punya pendamping hidup yang tidak bisa diandalkan. Belajarlah sedikit banyak tentang mesin, kelak jika televisi, mesin cuci, atau kendaraan kita rusak, kamu tahu bagaimana cara memperbaikinya. Jika suatu hari keran, pipa, atau atap rumah kita bocor, kamu tahu bagaimana cara mengatasinya.

Baiklah, sekian dulu yang ingin aku sampaikan untukmu. Sampai bertemu  di masa depan!





Salam manis dari calon teman hidupmu,

Denpasar, 1 Juli 2017
 





     

Thursday, June 29, 2017

Aku, Kau, dan Hujan




Ada banyak hal yang selalu aku rindukan tentang hujan. wangi tanah yang menyergap hidungku kala rintik rintik hujan membasuh tanah yang tandus. Wangi rerumputan yang segar, embun yang menggantung di dedaunan, juga suara rintik nya yang menenangkan. Membuat suasana semakin kelam, tapi aku suka. Entah kenapa. Baunya selalu mampu meninabobokanku di kasur. Perasaan yang tidak bisa aku dapatkan saat musim kemarau.

Hujan seakan tahu bagaimana cara  membawa dan menghapus tiap kenangan manis di ingatanku.
Kehangatan dari selimut tak cukup kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulangku. Rasa dingin itu merambat hingga ke telapak tanganku. Aku memejamkan mata. Yang kulihat adalah aku dan dia yang sedang menggenggam jemari masing masing. 

Di depan kelas, tepat saat jam istirahat. Itu adalah siang yang sejuk karena langit mendung. Ia berjalan mendekat menghampiriku di depan kelas. Kau tesenyum. Bertanya bagaimana pelajaranku berlangsung dan aku pun menanyakan hal yang sama. Kau bilang guru di kelasmu menyebalkan jadi kau tak ingin memperhatikannya. Aku tertawa. Entah bagaimana, jari kita seketika bertautan. Aku tak mampu menolaknya. 

Kita berpegangan tangan untuk beberapa saat. Ku pikir itu hanya akan berlangsung sepersekian detik. Tidak, aku salah. Kau tetap menggenggamnya. Semakin erat. Aku bahkan tak punya cukup keberanian menoleh ke arahmu. Kita menoleh ke arah yang berbeda, berdiri dengan tangan yang saling bertautan. Lalu aku mentapmu, kau tersenyum. Dan waktu yang singkat itu aku menikmati hujan dalam sunyi dan hangatnya genggaman tanganmu. Bel berdering, tanda genggaman itu harus terlepas.


Bel pulang berganti, kau berdiri di depan kelasku. Menunggu dengan senyum sabar. Tanganmu kau gantungkan di pundakku. Kita berjalan ke parkiran bersama. Sesekali bergurau, menertawakan hal hal tidak penting seperti mengapa hari ini ukuran donat di kantin mengecil atau ibu kantin yang lucu, atau pak satpam yang tak bisa tersenyum karena sakit gigi. Ah, dasar si bodoh. Selalu saja bisa membuatku senang.

Arghhh aku ingin berhenti memikirkan ini. Tapi hujan terus membawaku ke masa lalu.

Aku ingat ketika kau rela menemaniku makan di suatu café favorit kita. Padahal satu jam setelah itu, kau harus latihan. Kau seharusnya istirahat. Tapi kau lebih memilih di situ, bersamaku. Aku malu, rasanya tak enak makan sendiri karena kau puasa. Saat itu, wajahmu menghadapku. Menaruh kedua tanganmu di dagu lalu memandangiku sambil tersenyum. Ah, kau ini memang menggemaskan! Dan sebelum pulang, kau merangkulku di parkiran. Lalu mengambil handphone. Kita berfoto. Itu adalah salah satu moment paling bahagia di hidupku.


Rintik hujan mulai reda. Aku masih terus berusaha menghentikan ingatan ingatan pahit yang menerjang otak ku.

Sekian lama, aku mempertanyakan hubungan kita pada diriku sendiri.

Apa kita ini teman? Ah, tidak mungkin. Terlalu mesra untuk sebutan hanya teman.

Apa kita ini sahabat? Ah, tentu saja tidak. Aku belum tahu siapa daftar orang yang kau benci

Apa kita ini pacaran? Hm, entahlah. Kau bahkan belum menyatakan perasaanmu

Sikapmu membuatku bimbang. Akhir akhir ini, kita sangat sering bertengkar. Mempermasahlakan hal hal kecil. Seperti aku yang lambat membalas pesanmu, atau kau yang cuek, dan masih banyak lagi. 

Aku mulai merasa kita tak cocok.


Hingga akhirnya kau berkata kau masih menyayangi masa lalu mu. Wanita yang kini sudah bahagia bersama kekasih barunya. Wanita yang bahkan enggan menoleh ke arahmu. wanita yang sudah benar benar melupakanmu. Wanita yang rasa cintanya terhadapmu sudah pudar. Wanita yang sudah tak menganggapmu lagi. Tapi kau masih mengharapkannya.


Ya, seharusnya aku tahu. Sejak dulu, kita memang bukan apa apa. Dan tak akan pernah menjadi “apa apa.”


Aku terlalu naif jika mengatakan aku baik baik saja atas apa yang telah terjadi di antara kita. Aku terlalu naif jika mengatakan aku tetap bahagia asal kau bahagia. Atau aku bahagia walaupun kau memilih dia. 

Sayangnya, aku tak senaif itu.


Aku marah. Aku marah pada diri sendiri. Karena telah membiarkan seorang laki laki masuk ke hatiku dan dengan tanpa rasa bersalah merusaknya. Aku telah membiarkan laki laki masuk ke hidupku, bahkan mempermainkan hatiku. Bodoh. Bodoh. Bodoh

Hujan berhenti. Aku larut dalam tidurku. Dengan mata sedikit sembab. Tak sadar ternyata air mataku telah membasahi bantal empuk ini. Hanya karena mengingat tentang sepenggal kisah antara aku, kau, dan hujan.