
Bali sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia memang tidak pernah sepi oleh wisatawan.
Berbagai wisatawan dari mancanegara datang berbondong - bondong setiap hari hanya karena ingin tahu betapa indahnya pulau kita ini. Dari sekian banyak tempat tujuan wisata di Bali, sebagian besar akan menjadikan Kuta sebagai pilihan pertama. Kuta memang selalu identik dengan Bali, terutama Pantai Kuta. Kawasan ini tidak pernah sepi pengunjung.
Banyak keunikan yang dapat kita temui ketika datang ke pantai kuta. Misalnya saja para ibu - ibu yang menawarkan jasa mengepang rambut dengan bayaran Rp 50.000,00 untuk satu orang. Ada yang menawarkan jasa tattoo, pernah - pernik seperti gelang – gelang, kalung, dan pakaian khas bali dengan gambar barongnya. Jika merasa lapar, anda juga bisa mengunjungi restoran atau cafe - cafe di sekitar pantai yang jaraknya sangat dekat, seperti misalnya Beachwalk. Apapun yang kita inginkan tersedia di sana. mulai dari makanan, pakaian, hingga menonton film. Namun jika hanya ingin bersantai santai di pantai, tersedia kursi kursi panjang dengan payung terpal yang cukup lebar menutupi kepala sehingga kita tidak kepanasan.
![]() |
| Pengepang rambut; salah satu profesi yang banyak digeluti masyarakat sekitar Pantai Kuta. |
Terlepas dari segala keindahan dan keunikan yang ditawarkan Pantai Kuta, ada permasalahan yang selalu mengusik keindahan pantai: sampah. Meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Bali tiap tahunnya, mengancam tambah besarnya masalah sampah Bali, terutaman di Pantai kuta. Sampah - sampah tersebut dibawa oleh ombak dan mendarat di pesisir pantai. Pasir – pasir pantai yang awalnya bersih dan biasa dijadikan oleh pengunjung sebagai tempat berjemur, duduk-duduk, atau bermain, kini dijauhi para turis. Mereka lebih memilih duduk di kursi yang disediakan oleh pedagang.
![]() |
| Kumpulan sampah yang berserakan di pesisir Pantai Kuta. |
Arus tak henti-hentinya mendaratkan sampah dan serpihan, mayoritas adalah sampah anorganik Ketika pesisir sudah terlihat penuh sampah, barulah disapu dan dikumpulkan membentuk gunungan sampah oleh para pedagang, penjaja jasa, dan pengelola pantai gotong royong setiap pagi, siang, dan sore. Begitu seterusnya. Sampah tak habis-habis dibawa gulungan ombak. Ada pemandangan yang kontras antara birunya laut dengan jejeran sampah plastik yang menutupi pasir.
Sampai saat ini, kita masih bertanya tanya darimanakah datangnya sampah - sampah tersebut. Banyak lembaga – lembaga yang melakukan survei terhadap masalah ini. Sebuah survei menyatakan sebagian besar sampah adalah plastik dan sumbernya dari darat. Artinya itu sampah kita sendiri yang dibuang di got, lalu masuk sungai, dan berakhir di lautan. Hasil survei memperlihatkan sampah yang terdapat di pantai Kuta didominasi 75% sampah plastik. Dari jenis sampah yang telah diperoleh dapat diklasifikasikan bahwa sumber sampah yang terdapat di pantai Kuta berasal dari aktifitas di darat mencapai sekitar 52%, aktifitas laut sekitar 14%, dan aktifitas secara umum baik darat maupun laut sebesar 34%.
Sampai saat ini, kita masih bertanya tanya darimanakah datangnya sampah - sampah tersebut. Banyak lembaga – lembaga yang melakukan survei terhadap masalah ini. Sebuah survei menyatakan sebagian besar sampah adalah plastik dan sumbernya dari darat. Artinya itu sampah kita sendiri yang dibuang di got, lalu masuk sungai, dan berakhir di lautan. Hasil survei memperlihatkan sampah yang terdapat di pantai Kuta didominasi 75% sampah plastik. Dari jenis sampah yang telah diperoleh dapat diklasifikasikan bahwa sumber sampah yang terdapat di pantai Kuta berasal dari aktifitas di darat mencapai sekitar 52%, aktifitas laut sekitar 14%, dan aktifitas secara umum baik darat maupun laut sebesar 34%.
Para wisatawan asing mengeluhkan masalah sampah ini di social media mereka. Banyak dari mereka menyebutkan bahwa Pantai Kuta merupakan pantai terkotor yang pernah mereka kunjungi. Hal ini tentunya dapat merusak pandangan dunia terhadap Bali. Para wisatawan datang untuk menikmati suasanya pantai yang indah dan bersih, dan berharap dapat melepas penat tetapi terganggu dengan banyaknya sampah yang berserakan di sekitaran pantai.
Masalah sampah memang sangat kritis, apalagi di bulan November sampai Januari dimana angin yang datang dari barat membawa sampah yang lebih banyak lagi dari pulau seberang melalui perairan. Bukan hanya sampah plastik atau anorganik lainnya, tetapi juga dahan - dahan kayu dan juga akar besar terbawa sampai ke Pantai Kuta menyebabkan volume sampah yang meningkat. Sampah kiriman ke Pantai Kuta dan sekitarnya merupakan fenomena alam yang pasti datang setiap tahunnya, untuk itu diperlukan penanganan yang proaktif. Hal ini harus dipikirkan tidak hanya oleh pemerintah kabupaten, tetapi juga oleh provinsi dan pusat.
Pemerintah telah berupaya dalam membersihkan sampah. Antara lain: mengangkut sampah yang dilakukan setiap harinya dengan menggunakan 4 wheel loader dan truk sampah dengan mengajak sekitar 1000 personil yang terdiri dari pemda, masyarakat dan kalangan perhotelan, dan membentuk Unit Reaksi Cepat yang bekerja sama dengan desa adat Kuta, menurunkan banyak pihak pembersih yang dibantu juga oleh alat - alat berat, walaupun penanganannya masih kurang cepat.
Tak sedikit juga organisasi yang ikut serta dalam gerakan membersihkan Pantai Kuta. Hal ini menunjukkan kepedulian mereka terhadap lingkungan Sebagai generasi muda Bali, ada beragam cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya hal serupa. Misalnya dengan menumbuhkan kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, atau melakukan gotong royong seminggu sekali untuk mengoptimalkan kebersihan di kawasan pariwisata. Kita pasti tidak ingin Pantai Kuta tercinta mendapat julukan Pantai Sampah. Mari bersama jaga kebersihan!


No comments:
Post a Comment
Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)