What are you looking for?

Friday, July 14, 2017

The Apple to My Pie


“ Ibu sudah muak!! Ini peringatan terakhir untukmu. Pokoknya, besok pagi, Ibu tidak mau    melihat dia ada di rumah ini lagi. Titik.”


Matahari belum saja menyingsing dan wanita paruh baya di hadapanku ini sudah menghabiskan setengah energinya untuk mengomel. Sungguh mengesalkan. Sudah berapa kali kubilang padanya, aku tak akan pernah merelakan dia pergi. Tidak akan!

Tapi ibu tetap bersikeras akan membuangnya ke jalanan. Tidak.. tidak.. tidak. Ibu harus melewati aku dulu sebelum menyakitinya. Lagi pula, aku tahu itu hanya omong kosong. Ibu hanya ingin menakutiku.

Mungkin ibu lupa. Hanya ‘dia’ yang ada untukku disaat tak ada satupun yang mau mendengar keluh kesahku. Hanya ia yang mau menemaniku mengobrol berjam jam tanpa pernah mengeluh bosan. Hanya dia yang tak membocorkan rahasiaku pada siapapu. Hanya ia yang tak pernah memarahiku. Hanya ia yang mengerti aku. Dimana lagi bisa kudapat kesetiaan seperti yang ia berikan selama ini?

Dan sekarang, ibu ingin mengusirnya? Oh yang benar saja!

Aku begitu menyayanginya. Pun dia begitu mencintaiku. Dia itu pelengkap hidupku. The apple to my pie. Hanya dia yang setia menyambutku sepulang sekolah, dengan wajah riangnya. Bola mata hitamnya yang bulat sempurna, juga hidungnya yang selalu jadi bagian favoritku.

Sudah empat tahun kami tinggal bersama. Dimana aku, disitulah dia. Kami ini sejoli yang tak bisa dipisahkan. Milikku juga jadi milikknya. Terutama urusan makanan. Dia memang jagonya! Jago mengambil makanan ku. Kadang sisanya pun tak apa.

Ia tidur bersamaku, dan setiap sore meronta minta diajak jalan. Karena kesibukanku, akhir akhir ini aku tak bisa menemaninya seperti hari hari biasanya. Aku sedikit merasa bersalah melihat wajahnya yang murung. Ah, maafkan aku.

Ku dengar suara motor ibu. Sepertinya ia sudah tiba dari pasar.

“Tolong ambilkan bahan belanjaan ibu. Berat sekali,” pintanya. Aku segera membantunya yang terlihat sangat kerepotan.  “Oh Tuhan, pedagang pedagang itu! mahal sekali harganya. Sekecil ini lima ribu rupiah. Lihat saja, aku tak akan membeli di sana lagi!” gerutunya.

Ia datang. Masih dengan wajah kantuk, kusut dan rambut urak urakan. Matanya mengerjap.
Enak sekali jadi kamu ya. Aku juga mau. Kerjanya hanya makan, tidur, bangun, dan…menjadikanku pembantu pribadimu. Hmm, mengesalkan memang. Tapi bagaimanapun aku tetap suka padamu. Wajahmu kala menatapku penuh harap,

“Ana, lihat dia! Menguap tanpa rasa bersalah. Bukannya membantuku membersihkan rumah ini,”

Yaaa begitulah ibuku. Omelannya tak pernah usai. Tak apa, kubiarkan ia tetap mengomel jika hal itu membuat merasa lebih baik. Toh kesayanganku tak akan marah. Dia tak akan mengerti apa yang dibicarakan ibu.

Dia adalah Sinchan, anjing imut kesayanganku.

No comments:

Post a Comment

Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)