“ Ibu sudah muak!! Ini peringatan terakhir untukmu. Pokoknya, besok pagi, Ibu tidak mau melihat dia ada di rumah ini lagi. Titik.”
Matahari
belum saja menyingsing dan wanita paruh baya di hadapanku ini sudah
menghabiskan setengah energinya untuk mengomel. Sungguh mengesalkan. Sudah
berapa kali kubilang padanya, aku tak akan pernah merelakan dia pergi. Tidak
akan!
Tapi
ibu tetap bersikeras akan membuangnya ke jalanan. Tidak.. tidak.. tidak. Ibu
harus melewati aku dulu sebelum menyakitinya. Lagi pula, aku tahu itu hanya
omong kosong. Ibu hanya ingin menakutiku.
Mungkin
ibu lupa. Hanya ‘dia’ yang ada untukku disaat tak ada satupun yang mau
mendengar keluh kesahku. Hanya ia yang mau menemaniku mengobrol berjam jam
tanpa pernah mengeluh bosan. Hanya dia yang tak membocorkan rahasiaku pada siapapu.
Hanya ia yang tak pernah memarahiku. Hanya ia yang mengerti aku. Dimana lagi
bisa kudapat kesetiaan seperti yang ia berikan selama ini?
Dan
sekarang, ibu ingin mengusirnya? Oh yang benar saja!
Aku
begitu menyayanginya. Pun dia begitu mencintaiku. Dia itu pelengkap hidupku. The apple to my pie. Hanya dia yang setia
menyambutku sepulang sekolah, dengan wajah riangnya. Bola mata hitamnya yang
bulat sempurna, juga hidungnya yang selalu jadi bagian favoritku.
Sudah
empat tahun kami tinggal bersama. Dimana aku, disitulah dia. Kami ini sejoli
yang tak bisa dipisahkan. Milikku juga jadi milikknya. Terutama urusan makanan.
Dia memang jagonya! Jago mengambil makanan ku. Kadang sisanya pun tak apa.
Ia
tidur bersamaku, dan setiap sore meronta minta diajak jalan. Karena kesibukanku,
akhir akhir ini aku tak bisa menemaninya seperti hari hari biasanya. Aku sedikit
merasa bersalah melihat wajahnya yang murung. Ah, maafkan aku.
Ku
dengar suara motor ibu. Sepertinya ia sudah tiba dari pasar.
“Tolong ambilkan bahan belanjaan ibu. Berat sekali,” pintanya. Aku segera
membantunya yang terlihat sangat kerepotan. “Oh Tuhan, pedagang pedagang itu! mahal sekali
harganya. Sekecil ini lima ribu rupiah. Lihat saja, aku tak akan membeli di sana
lagi!” gerutunya.
Ia
datang. Masih dengan wajah kantuk, kusut dan rambut urak urakan. Matanya
mengerjap.
Enak
sekali jadi kamu ya. Aku juga mau. Kerjanya hanya makan, tidur, bangun,
dan…menjadikanku pembantu pribadimu. Hmm, mengesalkan memang. Tapi bagaimanapun
aku tetap suka padamu. Wajahmu kala menatapku penuh harap,
“Ana, lihat dia! Menguap tanpa rasa bersalah. Bukannya
membantuku membersihkan rumah ini,”
Yaaa
begitulah ibuku. Omelannya tak pernah usai. Tak apa, kubiarkan ia tetap
mengomel jika hal itu membuat merasa lebih baik. Toh kesayanganku tak akan
marah. Dia tak akan mengerti apa yang dibicarakan ibu.
Dia
adalah Sinchan, anjing imut kesayanganku.
No comments:
Post a Comment
Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)