Ah..pria itu lagi!
Aku kenal suara motor itu.
Terlalu familiar di telingaku. Bagaimana tidak, nyaris lima kali dalam
seminggu, kudengar suaranya mendekat. Lalu berhenti tepat di depan gerbang
cokelat rumahku. Sesaat setelah itu, anjingku, Chocow, akan berlari dengan
sigapnya dengan ekor yang bergoyang ke kanan dan kiri. Tanda bahwa ia mengenali
pemilik motor buntut berwarna hijau tua itu.
Lagi.. lagi.. dan lagi. Aku
harus memasang wajah senang, –atau setidaknya menyunggingkan seulas senyum–
saat bertemu dengannya. Lalu menanyakan hal tidak penting sejenis:
“ Oh halo.”
“ Bagaimana keadaan
jalanan hari ini?”
“ Bagaimana kabarmu?”
“ Sudah lama?”
“ Baru pulang bekerja?
Tidak. Itu bukan Ana.
Menanyakan pertanyaan yang terlalu babibu. Aku tak suka berbasa basi. Apalagi
untuk orang seperti dia. Waktuku terlalu berharga.
Kau tahu, aku benci
menjadi pembohong. Lagi pula, aku tak berbakat menjadi pembohong. Wajahku
terlalu kentara memperlihatkan ekspresi ketidaksukaan. Dengan mudah orang lain
dapat menebak bahwa aku membencinya. Mungkin, bulan depan aku berencana
bergabung dengan club teater agar wajahku bisa diajari cara diajak berkomporomi
dan bersandiwara.
Biar kuberitahu padamu, bermuka
dua itu melelahkan. Kau harus tersenyum disaat yang bersamaan kau ingin marah. Oh
ya, satu hal lagi. Bertemu dengan pria itu membuat dosaku semakin bertambah
banyak. Pokoknya, dia harus bertanggungjawab atas semua ini! Lihat saja
sekarang, aku sudah menggerutu di kamar. Mengomel tak karuan. Cemas. Kesal.
Sedih. Ingin sekali rasanya aku berteriak saat ini juga. Tapi syukurlah, otak
ku masih mampu bekerja dengan waras. Jika tidak, tak terpikir lagi olehku,
kemana semua barang barangku ini akan mendarat.
Semua ini gara gara pria
itu! Pria yang selalu saja membuat moodku
yang tadinya bahagia, seketika terlihat seperti gadis paling lara di muka bumi ini.
Oh.
Lihat apa yang
dibawanya. Sebungkus jajanan dengan kantung plastik putih. Tanpa ada komando
ataupun sebuah kalimat ‘silakan duduk’, ia akan langsung masuk. Duduk dengan
tenang. Bercengkrama dengan ibuku,
tertawa lepas, mengobrol hal yang tidak penting, bahkan bisa menjadi sangat
serius. Seperti biasa, ibuku akan menyapanya hangat, dengan segelas teh atau
kopi panas di tangannya. Ya, tamu. Begitulah sewajarnya menyambut seorang tamu.
Tamu yang entah hanya tamu atau seseorang yang lebih dari ‘sekedar tamu’.
Maaf, maaf. Mungkin
terlalu sarkastik.
Ah terserahlah. Aku tak
peduli obrolan mereka.
Akan lebih baik jika aku
tak melihat wajah pria itu. Tidak..tidak.. aku tak bermaksud membencinya. Hanya
saja, aku tak suka ada orang yang berusaha menggantikan posisi orang yang
paling aku cintai di dunia ini. Orang yang paling kurindukan sepuluh tahun
terakhir. Orang satu satunya yang akan kupanggil “ayah”.
Jika ia mencoba merebut
hatiku dengan selalu berbuat baik, membelikan ku ini dan itu, membawakan
makanan, maaf, aku tak bisa. Karena semua itu tak cukup. Aku tak bisa disogok
dengan apapun. Hatiku terlanjur beku. Tak peduli seberapa banyak ia mencoba. Pria
itu tak akan pernah bisa. Mungkin ia mampu mengambil hati ibu dan kakak
perempuanku, tapi tidak denganku. Tidak akan pernah. Kutegaskan sekali lagi.
Tidak - akan - pernah.
Kau tahu. Ini sungguh
menyebalkan. Arrggghh!! Aku bisa gila jika begini terus. Mencari cari alasan
agar aku tak keluar kamar, atau mencari alasan agar aku bisa pergi dari rumah.
Hanya untuk menghindari pria itu. Memangnya siapa dia?! Dasar bodoh. Mengapa
pula aku harus melakukannya?
Bahkan jika dipikir
pikir, rumahku sama sekali tak menarik. Mengapa harus setiap hari pria itu
berkunjung? Apa rumahnya tak semenarik milikku? Apa rumahnya terlalu hampa?
Apakah rumahnya sebegitu kotor? Oh, atau mungkin hidupnya memang membosankan.
Kemudian menjadikan rumahku pelarian. Bernaung, melepas penatnya selepas
seharian bekerja.
Bagus. Ide yang sangat
brilian.
Ya, aku tahu. Mustahil
bagiku mengusir pria itu agar segera angkat kaki. Begitu ada kesempatan, ia
akan datang. Lagi dan lagi.
Lupakan.
Aku lelah membicarakan
pria bajingan itu. Energiku habis terkuras.
Baiklah, aku punya
sebutan baru untuk pria itu. akan kusebut ia debu. Debu –sesuatu yang beratus
ratus kali disapu, dan beribu ribu kali datang kembali.
Dia, pria debu.
No comments:
Post a Comment
Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)