What are you looking for?

Saturday, August 12, 2017

pria debu





Ah..pria itu lagi!

Aku kenal suara motor itu. Terlalu familiar di telingaku. Bagaimana tidak, nyaris lima kali dalam seminggu, kudengar suaranya mendekat. Lalu berhenti tepat di depan gerbang cokelat rumahku. Sesaat setelah itu, anjingku, Chocow, akan berlari dengan sigapnya dengan ekor yang bergoyang ke kanan dan kiri. Tanda bahwa ia mengenali pemilik motor buntut berwarna hijau tua itu.

Sungguh memuakkan!

Lagi.. lagi.. dan lagi. Aku harus memasang wajah senang, –atau setidaknya menyunggingkan seulas senyum– saat bertemu dengannya. Lalu menanyakan hal tidak penting sejenis:

“ Oh halo.”

“ Bagaimana keadaan jalanan hari ini?”

 “ Bagaimana kabarmu?”

“ Sudah lama?”

“ Baru pulang bekerja?

Tidak. Itu bukan Ana. Menanyakan pertanyaan yang terlalu babibu. Aku tak suka berbasa basi. Apalagi untuk orang seperti dia. Waktuku terlalu berharga.

Kau tahu, aku benci menjadi pembohong. Lagi pula, aku tak berbakat menjadi pembohong. Wajahku terlalu kentara memperlihatkan ekspresi ketidaksukaan. Dengan mudah orang lain dapat menebak bahwa aku membencinya. Mungkin, bulan depan aku berencana bergabung dengan club teater agar wajahku bisa diajari cara diajak berkomporomi dan bersandiwara.

Biar kuberitahu padamu, bermuka dua itu melelahkan. Kau harus tersenyum disaat yang bersamaan kau ingin marah. Oh ya, satu hal lagi. Bertemu dengan pria itu membuat dosaku semakin bertambah banyak. Pokoknya, dia harus bertanggungjawab atas semua ini! Lihat saja sekarang, aku sudah menggerutu di kamar. Mengomel tak karuan. Cemas. Kesal. Sedih. Ingin sekali rasanya aku berteriak saat ini juga. Tapi syukurlah, otak ku masih mampu bekerja dengan waras. Jika tidak, tak terpikir lagi olehku, kemana semua barang barangku ini akan mendarat.

Semua ini gara gara pria itu! Pria yang selalu saja membuat moodku yang tadinya bahagia, seketika terlihat seperti gadis paling lara di muka bumi ini.

Oh. 
Lihat apa yang dibawanya. Sebungkus jajanan dengan kantung plastik putih. Tanpa ada komando ataupun sebuah kalimat ‘silakan duduk’, ia akan langsung masuk. Duduk dengan tenang.  Bercengkrama dengan ibuku, tertawa lepas, mengobrol hal yang tidak penting, bahkan bisa menjadi sangat serius. Seperti biasa, ibuku akan menyapanya hangat, dengan segelas teh atau kopi panas di tangannya. Ya, tamu. Begitulah sewajarnya menyambut seorang tamu. Tamu yang entah hanya tamu atau seseorang yang lebih dari ‘sekedar tamu’.

Maaf, maaf. Mungkin terlalu sarkastik.

Ah terserahlah. Aku tak peduli obrolan mereka.

Akan lebih baik jika aku tak melihat wajah pria itu. Tidak..tidak.. aku tak bermaksud membencinya. Hanya saja, aku tak suka ada orang yang berusaha menggantikan posisi orang yang paling aku cintai di dunia ini. Orang yang paling kurindukan sepuluh tahun terakhir. Orang satu satunya yang akan kupanggil “ayah”.

Jika ia mencoba merebut hatiku dengan selalu berbuat baik, membelikan ku ini dan itu, membawakan makanan, maaf, aku tak bisa. Karena semua itu tak cukup. Aku tak bisa disogok dengan apapun. Hatiku terlanjur beku. Tak peduli seberapa banyak ia mencoba. Pria itu tak akan pernah bisa. Mungkin ia mampu mengambil hati ibu dan kakak perempuanku, tapi tidak denganku. Tidak akan pernah. Kutegaskan sekali lagi. Tidak - akan - pernah.

Kau tahu. Ini sungguh menyebalkan. Arrggghh!! Aku bisa gila jika begini terus. Mencari cari alasan agar aku tak keluar kamar, atau mencari alasan agar aku bisa pergi dari rumah. Hanya untuk menghindari pria itu. Memangnya siapa dia?! Dasar bodoh. Mengapa pula aku harus melakukannya?
Bahkan jika dipikir pikir, rumahku sama sekali tak menarik. Mengapa harus setiap hari pria itu berkunjung? Apa rumahnya tak semenarik milikku? Apa rumahnya terlalu hampa? Apakah rumahnya sebegitu kotor? Oh, atau mungkin hidupnya memang membosankan. Kemudian menjadikan rumahku pelarian. Bernaung, melepas penatnya selepas seharian bekerja.

Bagus. Ide yang sangat brilian.

Ya, aku tahu. Mustahil bagiku mengusir pria itu agar segera angkat kaki. Begitu ada kesempatan, ia akan datang. Lagi dan lagi.

Lupakan.

Aku lelah membicarakan pria bajingan itu. Energiku habis terkuras.

Baiklah, aku punya sebutan baru untuk pria itu. akan kusebut ia debu. Debu –sesuatu yang beratus ratus kali disapu, dan beribu ribu kali datang kembali.

Dia, pria debu.

No comments:

Post a Comment

Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)