Ada
banyak hal yang selalu aku rindukan tentang hujan. wangi tanah yang menyergap
hidungku kala rintik rintik hujan membasuh tanah yang tandus. Wangi rerumputan yang segar, embun yang menggantung di
dedaunan, juga suara rintik nya yang menenangkan. Membuat suasana semakin
kelam, tapi aku suka. Entah kenapa. Baunya selalu mampu meninabobokanku di kasur.
Perasaan yang tidak bisa aku dapatkan saat musim kemarau.
Hujan
seakan tahu bagaimana cara membawa dan
menghapus tiap kenangan manis di ingatanku.
Kehangatan
dari selimut tak cukup kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulangku. Rasa
dingin itu merambat hingga ke telapak tanganku. Aku memejamkan mata. Yang
kulihat adalah aku dan dia yang sedang menggenggam jemari masing masing.
Di
depan kelas, tepat saat jam istirahat. Itu adalah siang yang sejuk karena
langit mendung. Ia berjalan mendekat menghampiriku di depan kelas. Kau
tesenyum. Bertanya bagaimana pelajaranku berlangsung dan aku pun menanyakan hal
yang sama. Kau bilang guru di kelasmu menyebalkan jadi kau tak ingin
memperhatikannya. Aku tertawa. Entah bagaimana, jari kita seketika bertautan.
Aku tak mampu menolaknya.
Kita berpegangan tangan untuk beberapa saat. Ku pikir itu hanya akan berlangsung sepersekian detik. Tidak, aku salah. Kau tetap menggenggamnya. Semakin erat. Aku bahkan tak punya cukup keberanian menoleh ke arahmu. Kita menoleh ke arah yang berbeda, berdiri dengan tangan yang saling bertautan. Lalu aku mentapmu, kau tersenyum. Dan waktu yang singkat itu aku menikmati hujan dalam sunyi dan hangatnya genggaman tanganmu. Bel berdering, tanda genggaman itu harus terlepas.
Bel pulang berganti, kau berdiri di depan kelasku. Menunggu dengan senyum sabar. Tanganmu kau gantungkan di pundakku. Kita berjalan ke parkiran bersama. Sesekali bergurau, menertawakan hal hal tidak penting seperti mengapa hari ini ukuran donat di kantin mengecil atau ibu kantin yang lucu, atau pak satpam yang tak bisa tersenyum karena sakit gigi. Ah, dasar si bodoh. Selalu saja bisa membuatku senang.
Arghhh
aku ingin berhenti memikirkan ini. Tapi hujan terus membawaku ke masa lalu.
Aku
ingat ketika kau rela menemaniku makan di suatu café favorit kita. Padahal satu
jam setelah itu, kau harus latihan. Kau seharusnya istirahat. Tapi kau lebih
memilih di situ, bersamaku. Aku malu, rasanya tak enak makan sendiri karena kau
puasa. Saat itu, wajahmu menghadapku. Menaruh kedua tanganmu di dagu lalu
memandangiku sambil tersenyum. Ah, kau ini memang menggemaskan! Dan sebelum
pulang, kau merangkulku di parkiran. Lalu mengambil handphone. Kita berfoto. Itu
adalah salah satu moment paling bahagia di hidupku.
Rintik
hujan mulai reda. Aku masih terus berusaha menghentikan ingatan ingatan pahit
yang menerjang otak ku.
Sekian
lama, aku mempertanyakan hubungan kita pada diriku sendiri.
Apa
kita ini teman? Ah, tidak mungkin. Terlalu mesra untuk sebutan hanya teman.
Apa
kita ini sahabat? Ah, tentu saja tidak. Aku belum tahu siapa daftar orang yang
kau benci
Apa
kita ini pacaran? Hm, entahlah. Kau bahkan belum menyatakan perasaanmu
Sikapmu
membuatku bimbang. Akhir akhir ini, kita sangat sering bertengkar. Mempermasahlakan
hal hal kecil. Seperti aku yang lambat membalas pesanmu, atau kau yang cuek,
dan masih banyak lagi.
Aku mulai merasa kita tak cocok.
Hingga
akhirnya kau berkata kau masih menyayangi masa lalu mu. Wanita yang kini sudah
bahagia bersama kekasih barunya. Wanita yang bahkan enggan menoleh ke arahmu.
wanita yang sudah benar benar melupakanmu. Wanita yang rasa cintanya terhadapmu
sudah pudar. Wanita yang sudah tak menganggapmu lagi. Tapi kau masih
mengharapkannya.
Ya,
seharusnya aku tahu. Sejak dulu, kita memang bukan apa apa. Dan tak akan pernah
menjadi “apa apa.”
Aku
terlalu naif jika mengatakan aku baik baik saja atas apa yang telah terjadi di
antara kita. Aku terlalu naif jika mengatakan aku tetap bahagia asal kau
bahagia. Atau aku bahagia walaupun kau memilih dia.
Sayangnya, aku tak senaif itu.
Sayangnya, aku tak senaif itu.
Aku marah. Aku marah pada diri sendiri. Karena telah membiarkan seorang laki laki masuk ke hatiku dan dengan tanpa rasa bersalah merusaknya. Aku telah membiarkan laki laki masuk ke hidupku, bahkan mempermainkan hatiku. Bodoh. Bodoh. Bodoh
Hujan
berhenti. Aku larut dalam tidurku. Dengan mata sedikit sembab. Tak sadar
ternyata air mataku telah membasahi bantal empuk ini. Hanya karena mengingat
tentang sepenggal kisah antara aku, kau, dan hujan.
No comments:
Post a Comment
Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)