What are you looking for?

Friday, September 30, 2016

Dilema Si Bocah Pengemis #Great3rdCOMPETITIONFEUNJ



“Piiiiiiiimmm… piiiimmm!”

“ Mas, beli air minumnya cuma lima ribu mas. “

“ Mengapa aku begini syalalalala...”

“ Ayo ayo Lebak Bulus – Senen, Manggarai – UI ayo naik naikk!”

“ Priiit! Ya kanan, kiri pak kiri terus terus…”

“ Maaf pak, bisa lihat surat surat kendaraannya?”


Begitulah riuh kota metropolitan, Jakarta. Mulai dari para pengendara yang mengklakson kendaraannya berkali berkali, padahal hal itu tak akan membuat kemacetan menjadi lancar. Ada pula pedagang asongan yang menawarkan dagangannya, pengamen yang asik bernyanyi, para kernet bus yang sedang menarik penumpang, tukang parkir yang sibuk mengarahkan si pengendara, bahkan polisi yang sedang menilang si pelanggar. Hal yang hampir setiap hari disaksikan Andra selagi ia berjalan menuju halte.

Tak ada satupun pemandangan yang luput dari sorot matanya, tak terkecuali para pengemis dan gelandangan yang duduk memenuhi  emperan trotoar. Mulai dari ujung barat hingga ujung timur, para pengemis dan gelandangan itu duduk berjajar. Dari anak kecil hingga lansia sekalipun. Semuanya seakan menjadi hal yang lumrah di kota ini.

Namun, di antara semua pengemis itu, mata Andra tertuju pada sesosok wanita. Seorang ibu - ibu paruh baya, berkerudung putih sedang duduk di pinggir trotoar. Ia tengah menggendong seorang bayi di pangkuannya. Wajah bayi itu hanya ditutupi selembar kain, mungkin agar tak silau terkena sinar matahari. Di sebelahnya, duduk seorang bocah laki - laki dengan wajah lesu dan pakaian setengah robek yang kumal. Mereka menengadahkan tangan. Satu per satu orang yang melewati jalan itu, memberikan uang. Receh ataupun uang kertas. Dengan sebuah kotak mie bekas, ia tampung uang itu.
***
Kini Andra dan sobat karibnya, Doni, sedang duduk di halte, berdesakan dengan penumpang lain. Menuggu bus yang akan mengangkut mereka pulang.
“ Woy! Lu kenapa? Bengong mulu,” tanya Doni.

“ Gue kasian aja sama ibu itu, anaknya kepanasan tuh,” jawab Andra sambari menyeruput segelas es teh.

“ Inget bro, Jakarta itu keras! Semua orang berlomba - lomba untuk bisa dapat pekerjaan yang layak buat bertahan hidup,” kata Doni sambil menepuk pundak Andra. Apa yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Andra menghela nafas, memikirkan akan jadi apa ia ketika lulus kuliah  nanti. Ia sama sekali tak pernah berpikir akan mengambil jurusan ilmu komunikasi. Karena cita-citanya adalah menjadi seorang musisi handal. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

Andra lalu mengambil kamera digitalnya, mendekatnya ke wajah sambil mengatur fokus lensanya. Memutar mutar ujung lensa sesekali. Cekrekkk, foto pengemis itu berhasil ia abadikan. Pemandangan yang eksotis sekaligus miris. Sebagai seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, kamera merupakan barang wajib yang selalu ia bawa kemana-mana. Mengingat peristiwa apapun bisa terjadi kapan dan di mana saja. Jadi ia bisa langsung mengambil gambar.

***
Sudah satu bulan sejak pertama kali Andra melihat wanita berkerudung putih dan bayinya itu, juga anak laki-lakinya. Entah dari sekian banyak pengemis, ia hanya tertarik dengan wanita berkerudung putih itu. Andra tak tega melihat si bocah laki-laki dan bayi yang berada di pangkuan ibunya. Seharusnya, hari ini bocah itu sedang bersekolah, bermain bersama teman-teman sebayanya. Menikmati masa kecilnya yang menyenangkan. Bukan mengemis di tempat seperti ini.  

Andra melangkahkan kakinya mendekati pengemis wanita itu. Wajah wanita itu nelangsa. Dirogohnya kantong celananya, mencari sesuatu yang bisa ia berikan untuk anak dan ibunya itu. Dengan sedikit keraguan, ia memberikan selembar uang lima ribu rupiah kepada si wanita berkerudung.

“ Terimakasih, nak,” ucap si wanita.

Andra membalasnya dengan anggukan. Tak sengaja, ia melihat beberapa luka di kulit si bocah laki - laki, di beberapa bagian kulitnya juga membiru. Ia ingin bertanya, namun ia mengurungkan niatnya. ”Mungkin saja anak itu terjatuh,”pikir Andra dalam hati. Melihat bayi polos di pangkuan wanita itu membuatnya semakin iba.

Entah karena apa, tiba tiba muncul hasrat Andra untuk mencari tahu tentang siapa bocah laki - laki itu sebenarnya. Di manakah mereka tinggal dan bagaimana kondisi mereka. Mungkin.. ini yang disebut insting wartawan.

Siang itu, dari kejauhan, Andra mengamati setiap gerak gerik bocah laki laki itu. Tak ada raut senang di wajahnya. Ia menunduk seperti ketakutan. Ketika matahari telah kembali ke peraduannya, Andra mengikuti ke mana perginya mereka.

Hingga akhirnya ia sampai di suatu perkampungan yang bisa dibilang kumuh. Hanya terdapat rumah - rumah kecil yang dibuat dari kardus atau triplek bekas. Bocah laki - laki itu berjalan terpisah, meninggalkan si wanita berkerudung dan bayi di gendongannya. Andra segera berlari mengejar si bocah laki -laki itu.

“ Hey! Tunggu sebentar!” teriak Andra kepada bocah itu sambil memegang pundaknya. Anak itu menoleh dengan wajah heran dan sedikit takut.

“ Tenang, aku orang baik kok. Oh iya, nama kamu siapa?” tanya Andra perlahan.

“ Namaku Dodi bang. Udah ya bang, aku buru - buru!” jawab si bocah yang berusaha kabur dari Andra. Tapi, Andra selalu punya cara agar mendapatkan informasi yang ia perlukan.

“ Kamu boleh pergi, tapiii… kamu harus cerita dulu sama abang. Gimana?” bujuk Andra. Setelah berpikir sejenak, Dodi akhirnya mengiyakan ajakan Andra. Kemudian ia mengajak bocah itu duduk dan membelikannya makanan. Bocah itu terlihat sangat kelaparan. Ia memakan nasi bungkus yang dibeli Andra dengan lahap hingga bersih  tak tersisa .

“Jadi, kenapa kamu nggak pulang ke rumah bareng ibu kamu?” investigasi Andra dimulai. 

“ Yang tadi itu sih bukan emak aku bang. Namanya Mak Ijah. Aku juga nggak tahu siapa orangtuaku. Aku dipaksa ikut mengemis, kalau aku menolak, nanti aku dipukuli bang. Jadi aku terpaksa menuruti perintahnya,” jawaban bocah itu sangat mengejutkan Andra. Mungkin itulah sebabnya mengapa banyak luka di kulit Dodi.

“ Kenapa kamu nggak nyoba lari?”

“ Udah sering bang. Tapi ujung ujungnya aku ketangkep lagi dan dipukuli sampai biru gini,”  jawab Dodi sambil menunjukan bagian tangannya yang membiru.

“ Terus, anak bayi itu bukan adikmu?”

Dodi mengangguk. Ia berkata bahwa, sebenarnya bayi - bayi yang dibawa oleh si wanita berkerudung itu adalah bayi yang berbeda setiap harinya. Bayi – bayi itu dibawa bergantian oleh orang yang berbeda untuk dipinjamkan kepada Mak Ijah dan dibayaran dengan bayaran tertentu.

“ Biar nggak rewel, bayi itu dikasi sejenis obat tidur gitu bang. Jadi mereka nggak akan nangis kalau dibawa saat mengemis,” ujar Dodi. Sontak mata Andra terbelalak mendengar pengakuan Dodi. Ia baru menyadari, pantas saja bayi - bayi yang dilihatnya tak pernah menangis. Namun ia tak pernah terpikir hingga ke sini. Tak terbayang dalam benaknya, bila ia berada di posisi yang rumit seperti Dodi. Seperti telur di ujung tanduk.
“ Lalu, berapa uang yang kamu dapat seharian mengemis?” tanya Andra penasaran.

“ Banyak lah bang, biasanya sampai dua ratus ribu lahh. Paling aku cuma dikasi goceng aja sama  Mak Ijah. Cukup buat beli jajan,” jawab Dodi dengan polos. Tak ada tampang kesal dalam wajahnya. Ia terlihat menerima kehidupan yang sedang ia jalani sekarang. Namun, siapa yang tahu isi hati seseorang yang sebenarnya, bukan?

Andra membisu. Dari seharian mengemis, bahkan setengah bagianpun tak diberikan. Entah wanita itu masih memiliki hati atau tidak. Secara tidak langsung, ini sudah termasuk eksploitasi anak. Menjadikan anak sebagai umpan penarik simpati masyarakat, lalu mengeruk hasilnya untuk kepentingan pribadi. “Cih! Politik macam apa itu,” gerutunya dalam hati. Andra berpikir keras, mencari jalan keluar agar bisa melepaskan bocah ini dari jerat orang - orang jahat.

“Bang… tolong  aku bang. Aku cuma pengen bisa sekolah kaya anak anak lainnya. Pasti keren deh kalau aku bisa pakai seragam kaya mereka,” ujar Dodi lirih. Terlihat keinginan besar yang tulus dari bocah itu. Air di pelupuk matanya menggenang, dan tak bisa ia bendung lagi. Andra bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Dodi. Hidup tanpa tahu siapa orang tuanya, dan malah jatuh ke tangan orang yang salah.

Malam itu setelah mengantar bocah malang itu pulang, Andra tahu apa yang harus ia lakukan.
***
“ Ehh ibu ibu, udah baca berita terbaru? Tentang pengemis yang ngasi obat bius ke anaknya itu lohh,” ujar salah seorang tetangga saat para ibu tengah sibuk memilih sayur sayuran .

“ Udah bu, saya nggak nyangka dehh kok bisa setega itu ya,” sahut Bu Desi.

“ Ih lain kali saya nggak akan ngasi uang lagi deh ke pengemis. Takut disalahgunakan bu,” timpal Bu Dina.

“ Kasihan ya, bayi yang dibius itu. Kan berbahaya sekali buat kesehatannya,” ujar bu Ana.

Begitulah obrolan ibu ibu yang Andra dengar pagi ini, saat ia hendak berangkat ke kampus. Tugas nya berhasil. Artikel yang semalam ia tulis lalu ia kirim ke media online terkenal itu ternyata langsung dimuat pada headline berita. Dengan judul “ HEBOH! BAYI PENGEMIS DIJEJALI OBAT BIUS” berita itu seketika menggemparkan masyarakat. Ia tak menyangka, berita itu telah tersebar secepat ini hingga menjadi perbincangan ibu - ibu di kompleknya. Ia berharap berita itu akan sampai ke telinga pemerintah, agar mereka tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di kota ini.
***
Pagi itu, saat Andra sedang berjalan menuju halte, tiba-tiba seseorang menabraknya hingga buku - buku yang ia bawa, jatuh berserakan. Bruukkk..
“ Eh maap maap banggg…,” Segera anak itu meminta maaf sambil membantu membereskan buku Andra.

“ Jalannya pelan - pelan aja dik,” jawab Andra sambil mengambil sisa buku yang berserakan. Setelah beberapa detik menatap anak kecil dengan seragam merah putih yang tampak masih berkilauan itu, ia baru menyadari sesuatu. “Hmm kayaknya gue pernah liat anak ini,” gumamnya dalam hati.

“ Loh kamu Dodi kan?” tanya Andra terkejut.

“ Iya bang. Abang ini…yang waktu itu beliin aku makan kan? Hehe sekarang aku mau berangkat ke sekolah dulu ya bang,” jawab Dodi dengan wajah sumringah.

“ Yaelahh sini dulu Dod, abang penasaran deh. Kenapa kamu bisa sekolah? Terus sekarang kamu tinggal di mana? Udah hampir satu bulan ya kita nggak ketemu hahaha,” balas Andra dengan tawa. Ia merangkul Dodi dan mengajaknya duduk.

 “ Jadi sejak banyak berita tentang pengemis itu bang, pemerintah langsung sigap. Nah waktu itu aku dibawa sama mereka ke suatu rumah, bareng sama anak – anak pengemis lainnya. Awalnya aku takuuut banget bang. Tapi ternyata mereka baik. Aku bisa makan enak. Trus kita disekolahin bang, dapet uang jajan. Pokoknya asyik  deh! Mak Ijah juga udah ditangkap bang dan anak - anak bayi itu udah selamat,” kilau matanya memancarkan binar bahagia kala bercerita tentang kehidupan barunya. Rasa haru dan senang menyelimuti diri Andra. Ia tahu, semua pengorbanan Dodi akan berbuah manis.

“ Oiya, makasih ya bang! Kalau abang nggak nulis berita tentang pengemis, mungkin sekarang aku masih minta - minta di trotoar dekat halte,” ujar Dodi, mengingat masa - masa kelam yang pernah ia alami.

“ Ah itu bukan karena abang kok, itu juga berkat bantuan teman - teman pers. Kamu juga harus terimakasih sama mereka, karena mereka bantuin abang nyebarin berita itu. Yaudah gih sana berangkat sekolah. Hati – hati ya!” Andra dan Dodi bangkit berdiri. Bocah laki - laki itu berlari memunggungi Andra. Dengan lambaian tangan, ia berbalik ke arah Andra dan berteriak “ MAKASIH UDAH JADI PAHLAWAN DODI YA, BANG!” sambil menyunggingkan senyum lebarnya, bocah itu berlari semakin jauh meninggalkan Andra yang masih terpaku di sana.

Hari itu mungkin akan menjadi hari paling tak terlupakan bagi Andra. Hal itu menyadarkannya tentang seberapa penting peran pers dalam mengungkap kasus seperti yang dialami Dodi. Akhirnya anak - anak seperti Dodi terselamatkan. Ia ingat malam itu, ia menelepon semua teman wartawannya untuk membantu mempublikasikan artikel itu dan pengorbanannya tak sia – sia. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Andra tak menyesali keputusannya menjadi seorang wartawan.




1 comment:

Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)