“Piiiiiiiimmm… piiiimmm!”
“ Mas, beli air minumnya cuma lima ribu mas. “
“ Mengapa aku begini syalalalala...”
“ Ayo ayo Lebak Bulus – Senen, Manggarai – UI ayo naik
naikk!”
“ Priiit! Ya kanan, kiri pak kiri terus terus…”
“ Maaf pak, bisa lihat surat surat kendaraannya?”
Begitulah riuh kota metropolitan, Jakarta. Mulai dari para
pengendara yang mengklakson kendaraannya berkali berkali, padahal hal itu tak
akan membuat kemacetan menjadi lancar. Ada pula pedagang asongan yang menawarkan
dagangannya, pengamen yang asik bernyanyi, para kernet bus yang sedang menarik
penumpang, tukang parkir yang sibuk mengarahkan si pengendara, bahkan polisi
yang sedang menilang si pelanggar. Hal yang hampir setiap hari disaksikan Andra
selagi ia berjalan menuju halte.
Tak ada satupun pemandangan yang luput dari sorot matanya,
tak terkecuali para pengemis dan gelandangan yang duduk memenuhi emperan trotoar. Mulai dari ujung barat
hingga ujung timur, para pengemis dan gelandangan itu duduk berjajar. Dari anak
kecil hingga lansia sekalipun. Semuanya seakan menjadi hal yang lumrah di kota
ini.
Namun, di antara semua pengemis itu, mata Andra tertuju pada sesosok wanita. Seorang ibu - ibu paruh baya, berkerudung putih sedang duduk di pinggir trotoar. Ia tengah menggendong seorang bayi di pangkuannya. Wajah bayi itu hanya ditutupi selembar kain, mungkin agar tak silau terkena sinar matahari. Di sebelahnya, duduk seorang bocah laki - laki dengan wajah lesu dan pakaian setengah robek yang kumal. Mereka menengadahkan tangan. Satu per satu orang yang melewati jalan itu, memberikan uang. Receh ataupun uang kertas. Dengan sebuah kotak mie bekas, ia tampung uang itu.
***
Kini Andra dan sobat karibnya, Doni, sedang
duduk di halte, berdesakan dengan penumpang lain. Menuggu bus yang akan
mengangkut mereka pulang.
“ Woy! Lu kenapa? Bengong mulu,” tanya Doni.
“ Gue kasian aja sama ibu itu, anaknya
kepanasan tuh,” jawab Andra sambari menyeruput segelas es teh.
“ Inget bro, Jakarta itu keras! Semua orang
berlomba - lomba untuk bisa dapat pekerjaan yang layak buat bertahan hidup,” kata
Doni sambil menepuk pundak Andra. Apa yang dikatakan sahabatnya itu memang
benar. Andra menghela nafas, memikirkan akan jadi apa ia ketika lulus kuliah nanti. Ia sama sekali tak pernah berpikir akan
mengambil jurusan ilmu komunikasi. Karena cita-citanya adalah menjadi seorang
musisi handal. Namun apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.
Andra lalu mengambil kamera digitalnya, mendekatnya ke wajah sambil
mengatur fokus lensanya. Memutar mutar ujung lensa sesekali. Cekrekkk, foto pengemis itu berhasil ia
abadikan. Pemandangan yang eksotis sekaligus miris. Sebagai seorang mahasiswa
jurusan ilmu komunikasi, kamera merupakan barang wajib yang selalu ia bawa
kemana-mana. Mengingat peristiwa apapun bisa terjadi kapan dan di mana saja.
Jadi ia bisa langsung mengambil gambar.
***
Sudah satu bulan sejak pertama kali Andra
melihat wanita berkerudung putih dan bayinya itu, juga anak laki-lakinya. Entah
dari sekian banyak pengemis, ia hanya tertarik dengan wanita berkerudung putih
itu. Andra tak tega melihat si bocah laki-laki dan bayi yang berada di pangkuan
ibunya. Seharusnya, hari ini bocah itu sedang bersekolah, bermain bersama
teman-teman sebayanya. Menikmati masa kecilnya yang menyenangkan. Bukan
mengemis di tempat seperti ini.
Andra melangkahkan kakinya mendekati pengemis wanita
itu. Wajah wanita itu nelangsa. Dirogohnya kantong celananya, mencari sesuatu
yang bisa ia berikan untuk anak dan ibunya itu. Dengan sedikit keraguan, ia
memberikan selembar uang lima ribu rupiah kepada si wanita berkerudung.
“ Terimakasih, nak,” ucap si wanita.
Andra membalasnya dengan anggukan. Tak sengaja,
ia melihat beberapa luka di kulit si bocah laki - laki, di beberapa bagian
kulitnya juga membiru. Ia ingin bertanya, namun ia mengurungkan niatnya. ”Mungkin saja anak itu terjatuh,”pikir
Andra dalam hati. Melihat bayi polos di pangkuan wanita itu membuatnya semakin
iba.
Entah karena apa, tiba tiba muncul hasrat Andra
untuk mencari tahu tentang siapa bocah laki - laki itu sebenarnya. Di manakah
mereka tinggal dan bagaimana kondisi mereka. Mungkin.. ini yang disebut insting
wartawan.
Siang itu, dari kejauhan, Andra mengamati setiap
gerak gerik bocah laki laki itu. Tak ada raut senang di wajahnya. Ia menunduk
seperti ketakutan. Ketika matahari telah kembali ke peraduannya, Andra
mengikuti ke mana perginya mereka.
Hingga akhirnya ia sampai di suatu perkampungan
yang bisa dibilang kumuh. Hanya terdapat rumah - rumah kecil yang dibuat dari
kardus atau triplek bekas. Bocah laki - laki itu berjalan terpisah,
meninggalkan si wanita berkerudung dan bayi di gendongannya. Andra segera
berlari mengejar si bocah laki -laki itu.
“ Hey! Tunggu sebentar!” teriak Andra kepada
bocah itu sambil memegang pundaknya. Anak itu menoleh dengan wajah heran dan
sedikit takut.
“ Tenang, aku orang baik kok. Oh iya, nama kamu
siapa?” tanya Andra perlahan.
“ Namaku Dodi bang. Udah ya bang, aku buru -
buru!” jawab si bocah yang berusaha kabur dari Andra. Tapi, Andra selalu punya cara
agar mendapatkan informasi yang ia perlukan.
“ Kamu boleh pergi, tapiii… kamu harus cerita
dulu sama abang. Gimana?” bujuk Andra. Setelah berpikir sejenak, Dodi akhirnya
mengiyakan ajakan Andra. Kemudian ia mengajak bocah itu duduk dan membelikannya
makanan. Bocah itu terlihat sangat kelaparan. Ia memakan nasi bungkus yang
dibeli Andra dengan lahap hingga bersih
tak tersisa .
“Jadi, kenapa kamu nggak pulang ke rumah bareng
ibu kamu?” investigasi Andra dimulai.
“ Yang tadi itu sih bukan emak aku bang.
Namanya Mak Ijah. Aku juga nggak tahu siapa orangtuaku. Aku dipaksa ikut
mengemis, kalau aku menolak, nanti aku dipukuli bang. Jadi aku terpaksa
menuruti perintahnya,” jawaban bocah itu sangat mengejutkan Andra. Mungkin
itulah sebabnya mengapa banyak luka di kulit Dodi.
“ Kenapa kamu nggak nyoba lari?”
“ Udah sering bang. Tapi ujung ujungnya aku
ketangkep lagi dan dipukuli sampai biru gini,” jawab Dodi sambil menunjukan bagian tangannya
yang membiru.
“ Terus, anak bayi itu bukan adikmu?”
Dodi mengangguk. Ia berkata bahwa, sebenarnya
bayi - bayi yang dibawa oleh si wanita berkerudung itu adalah bayi yang berbeda
setiap harinya. Bayi – bayi itu dibawa bergantian oleh orang yang berbeda untuk
dipinjamkan kepada Mak Ijah dan dibayaran dengan bayaran tertentu.
“ Biar nggak rewel, bayi itu dikasi sejenis
obat tidur gitu bang. Jadi mereka nggak akan nangis kalau dibawa saat
mengemis,” ujar Dodi. Sontak mata Andra terbelalak mendengar pengakuan Dodi. Ia
baru menyadari, pantas saja bayi - bayi yang dilihatnya tak pernah menangis.
Namun ia tak pernah terpikir hingga ke sini. Tak terbayang dalam benaknya, bila
ia berada di posisi yang rumit seperti Dodi. Seperti telur di ujung tanduk.
“ Lalu, berapa uang yang kamu dapat seharian
mengemis?” tanya Andra penasaran.
“ Banyak lah bang, biasanya sampai dua ratus ribu
lahh. Paling aku cuma dikasi goceng aja sama
Mak Ijah. Cukup buat beli jajan,” jawab Dodi dengan polos. Tak ada
tampang kesal dalam wajahnya. Ia terlihat menerima kehidupan yang sedang ia
jalani sekarang. Namun, siapa yang tahu isi hati seseorang yang sebenarnya,
bukan?
Andra membisu. Dari seharian mengemis, bahkan
setengah bagianpun tak diberikan. Entah wanita itu masih memiliki hati atau
tidak. Secara tidak langsung, ini sudah termasuk eksploitasi anak. Menjadikan
anak sebagai umpan penarik simpati masyarakat, lalu mengeruk hasilnya untuk
kepentingan pribadi. “Cih! Politik macam
apa itu,” gerutunya dalam hati. Andra berpikir keras, mencari jalan keluar
agar bisa melepaskan bocah ini dari jerat orang - orang jahat.
“Bang… tolong
aku bang. Aku cuma pengen bisa sekolah kaya anak anak lainnya. Pasti
keren deh kalau aku bisa pakai seragam kaya mereka,” ujar Dodi lirih. Terlihat
keinginan besar yang tulus dari bocah itu. Air di pelupuk matanya menggenang,
dan tak bisa ia bendung lagi. Andra bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Dodi.
Hidup tanpa tahu siapa orang tuanya, dan malah jatuh ke tangan orang yang
salah.
Malam itu setelah mengantar bocah malang itu
pulang, Andra tahu apa yang harus ia lakukan.
***
“
Ehh ibu ibu, udah baca berita terbaru? Tentang pengemis yang ngasi obat bius ke
anaknya itu lohh,” ujar salah seorang tetangga saat para ibu tengah sibuk
memilih sayur sayuran .
“
Udah bu, saya nggak nyangka dehh kok bisa setega itu ya,” sahut Bu Desi.
“
Ih lain kali saya nggak akan ngasi uang lagi deh ke pengemis. Takut
disalahgunakan bu,” timpal Bu Dina.
“
Kasihan ya, bayi yang dibius itu. Kan berbahaya sekali buat kesehatannya,” ujar
bu Ana.
Begitulah
obrolan ibu ibu yang Andra dengar pagi ini, saat ia hendak berangkat ke kampus.
Tugas nya berhasil. Artikel yang semalam ia tulis lalu ia kirim ke media online
terkenal itu ternyata langsung dimuat pada headline berita. Dengan judul “
HEBOH! BAYI PENGEMIS DIJEJALI OBAT BIUS” berita itu seketika menggemparkan
masyarakat. Ia tak menyangka, berita itu telah tersebar secepat ini hingga
menjadi perbincangan ibu - ibu di kompleknya. Ia berharap berita itu akan sampai
ke telinga pemerintah, agar mereka tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di
kota ini.
***
Pagi
itu, saat Andra sedang berjalan menuju halte, tiba-tiba seseorang menabraknya
hingga buku - buku yang ia bawa, jatuh berserakan. Bruukkk..
“
Eh maap maap banggg…,” Segera anak itu meminta maaf sambil membantu membereskan
buku Andra.
“
Jalannya pelan - pelan aja dik,” jawab Andra sambil mengambil sisa buku yang
berserakan. Setelah beberapa detik menatap anak kecil dengan seragam merah
putih yang tampak masih berkilauan itu, ia baru menyadari sesuatu. “Hmm kayaknya gue pernah liat anak ini,” gumamnya
dalam hati.
“
Loh kamu Dodi kan?” tanya Andra terkejut.
“
Iya bang. Abang ini…yang waktu itu beliin aku makan kan? Hehe sekarang aku mau
berangkat ke sekolah dulu ya bang,” jawab Dodi dengan wajah sumringah.
“
Yaelahh sini dulu Dod, abang penasaran deh. Kenapa kamu bisa sekolah? Terus
sekarang kamu tinggal di mana? Udah hampir satu bulan ya kita nggak ketemu
hahaha,” balas Andra dengan tawa. Ia merangkul Dodi dan mengajaknya duduk.
“ Jadi
sejak banyak berita tentang pengemis itu bang, pemerintah langsung sigap. Nah
waktu itu aku dibawa sama mereka ke suatu rumah, bareng sama anak – anak
pengemis lainnya. Awalnya aku takuuut banget bang. Tapi ternyata mereka baik.
Aku bisa makan enak. Trus kita disekolahin bang, dapet uang jajan. Pokoknya
asyik deh! Mak Ijah juga udah ditangkap
bang dan anak - anak bayi itu udah selamat,” kilau matanya memancarkan binar
bahagia kala bercerita tentang kehidupan barunya. Rasa haru dan senang
menyelimuti diri Andra. Ia tahu, semua pengorbanan Dodi akan berbuah manis.
“ Oiya, makasih ya bang! Kalau abang nggak nulis
berita tentang pengemis, mungkin sekarang aku masih minta - minta di trotoar
dekat halte,” ujar Dodi, mengingat masa - masa kelam yang pernah ia alami.
“ Ah itu bukan karena abang kok, itu juga
berkat bantuan teman - teman pers. Kamu juga harus terimakasih sama mereka,
karena mereka bantuin abang nyebarin berita itu. Yaudah gih sana berangkat
sekolah. Hati – hati ya!” Andra dan Dodi bangkit berdiri. Bocah laki - laki itu
berlari memunggungi Andra. Dengan lambaian tangan, ia berbalik ke arah Andra
dan berteriak “ MAKASIH UDAH JADI PAHLAWAN DODI YA, BANG!” sambil menyunggingkan
senyum lebarnya, bocah itu berlari semakin jauh meninggalkan Andra yang masih
terpaku di sana.
Hari itu mungkin akan menjadi hari paling tak
terlupakan bagi Andra. Hal itu menyadarkannya tentang seberapa penting peran
pers dalam mengungkap kasus seperti yang dialami Dodi. Akhirnya anak - anak
seperti Dodi terselamatkan. Ia ingat malam itu, ia menelepon semua teman
wartawannya untuk membantu mempublikasikan artikel itu dan pengorbanannya tak
sia – sia. Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Andra tak menyesali
keputusannya menjadi seorang wartawan.
aaaa❤️❤️
ReplyDelete