What are you looking for?

Thursday, June 29, 2017

Aku, Kau, dan Hujan




Ada banyak hal yang selalu aku rindukan tentang hujan. wangi tanah yang menyergap hidungku kala rintik rintik hujan membasuh tanah yang tandus. Wangi rerumputan yang segar, embun yang menggantung di dedaunan, juga suara rintik nya yang menenangkan. Membuat suasana semakin kelam, tapi aku suka. Entah kenapa. Baunya selalu mampu meninabobokanku di kasur. Perasaan yang tidak bisa aku dapatkan saat musim kemarau.

Hujan seakan tahu bagaimana cara  membawa dan menghapus tiap kenangan manis di ingatanku.
Kehangatan dari selimut tak cukup kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulangku. Rasa dingin itu merambat hingga ke telapak tanganku. Aku memejamkan mata. Yang kulihat adalah aku dan dia yang sedang menggenggam jemari masing masing. 

Di depan kelas, tepat saat jam istirahat. Itu adalah siang yang sejuk karena langit mendung. Ia berjalan mendekat menghampiriku di depan kelas. Kau tesenyum. Bertanya bagaimana pelajaranku berlangsung dan aku pun menanyakan hal yang sama. Kau bilang guru di kelasmu menyebalkan jadi kau tak ingin memperhatikannya. Aku tertawa. Entah bagaimana, jari kita seketika bertautan. Aku tak mampu menolaknya. 

Kita berpegangan tangan untuk beberapa saat. Ku pikir itu hanya akan berlangsung sepersekian detik. Tidak, aku salah. Kau tetap menggenggamnya. Semakin erat. Aku bahkan tak punya cukup keberanian menoleh ke arahmu. Kita menoleh ke arah yang berbeda, berdiri dengan tangan yang saling bertautan. Lalu aku mentapmu, kau tersenyum. Dan waktu yang singkat itu aku menikmati hujan dalam sunyi dan hangatnya genggaman tanganmu. Bel berdering, tanda genggaman itu harus terlepas.


Bel pulang berganti, kau berdiri di depan kelasku. Menunggu dengan senyum sabar. Tanganmu kau gantungkan di pundakku. Kita berjalan ke parkiran bersama. Sesekali bergurau, menertawakan hal hal tidak penting seperti mengapa hari ini ukuran donat di kantin mengecil atau ibu kantin yang lucu, atau pak satpam yang tak bisa tersenyum karena sakit gigi. Ah, dasar si bodoh. Selalu saja bisa membuatku senang.

Arghhh aku ingin berhenti memikirkan ini. Tapi hujan terus membawaku ke masa lalu.

Aku ingat ketika kau rela menemaniku makan di suatu café favorit kita. Padahal satu jam setelah itu, kau harus latihan. Kau seharusnya istirahat. Tapi kau lebih memilih di situ, bersamaku. Aku malu, rasanya tak enak makan sendiri karena kau puasa. Saat itu, wajahmu menghadapku. Menaruh kedua tanganmu di dagu lalu memandangiku sambil tersenyum. Ah, kau ini memang menggemaskan! Dan sebelum pulang, kau merangkulku di parkiran. Lalu mengambil handphone. Kita berfoto. Itu adalah salah satu moment paling bahagia di hidupku.


Rintik hujan mulai reda. Aku masih terus berusaha menghentikan ingatan ingatan pahit yang menerjang otak ku.

Sekian lama, aku mempertanyakan hubungan kita pada diriku sendiri.

Apa kita ini teman? Ah, tidak mungkin. Terlalu mesra untuk sebutan hanya teman.

Apa kita ini sahabat? Ah, tentu saja tidak. Aku belum tahu siapa daftar orang yang kau benci

Apa kita ini pacaran? Hm, entahlah. Kau bahkan belum menyatakan perasaanmu

Sikapmu membuatku bimbang. Akhir akhir ini, kita sangat sering bertengkar. Mempermasahlakan hal hal kecil. Seperti aku yang lambat membalas pesanmu, atau kau yang cuek, dan masih banyak lagi. 

Aku mulai merasa kita tak cocok.


Hingga akhirnya kau berkata kau masih menyayangi masa lalu mu. Wanita yang kini sudah bahagia bersama kekasih barunya. Wanita yang bahkan enggan menoleh ke arahmu. wanita yang sudah benar benar melupakanmu. Wanita yang rasa cintanya terhadapmu sudah pudar. Wanita yang sudah tak menganggapmu lagi. Tapi kau masih mengharapkannya.


Ya, seharusnya aku tahu. Sejak dulu, kita memang bukan apa apa. Dan tak akan pernah menjadi “apa apa.”


Aku terlalu naif jika mengatakan aku baik baik saja atas apa yang telah terjadi di antara kita. Aku terlalu naif jika mengatakan aku tetap bahagia asal kau bahagia. Atau aku bahagia walaupun kau memilih dia. 

Sayangnya, aku tak senaif itu.


Aku marah. Aku marah pada diri sendiri. Karena telah membiarkan seorang laki laki masuk ke hatiku dan dengan tanpa rasa bersalah merusaknya. Aku telah membiarkan laki laki masuk ke hidupku, bahkan mempermainkan hatiku. Bodoh. Bodoh. Bodoh

Hujan berhenti. Aku larut dalam tidurku. Dengan mata sedikit sembab. Tak sadar ternyata air mataku telah membasahi bantal empuk ini. Hanya karena mengingat tentang sepenggal kisah antara aku, kau, dan hujan.



Tuesday, June 20, 2017

Pengalaman Setahun Bersama Madyapadma

MP 38 39 40!!
Siang itu aku duduk di Workshop Bersama teman teman seangkatan. Dalam rangka mendegarkan orasi dari ekstra ekstra yang ada di Trisma. Aku sangat excited, yaaa wajar saja sebagai siswa baru, tingkat kepo ku naik drastis. Udara panas menemaniku sepanjang orasi berlangsung. Tibalah gilliran Madyapadma. Aku memperhatikan dengan seksama. Saat itu yang berorasi adalah Kak Ima. Kemudian ada juga beberapa video yang ditampilkan di layar. Hal pertama yang muncul di benakku adalah “ wow keren banget ekstra jurnalistik di sini..”

Keesokan harinya, kertas pemilihan ekstra dibagikan. Akhirnya aku menjatuhkan pilihanku di Madyapadma. Dan dari situlah perjalananku di Madyapadma berawal!
ini foto pertama kami. Edisi kelas 10 masih pada botak wkwk
Saat awal awal masuk Madyapadma, aku terkejut karena ternyata sangat banyak yang memilih ekstra ini. Saat itu kami lagi ada di kantin, duduk membentuk lingkaran besar. Kemudian masing masing menyebutkan nama dan hobby. Kakak kelas 11 dan 12 juga memperkenalkan diri.  

Pasti kalian bertanya tanya, sebenarnya Madyapadma itu apa sih?

Sini biar aku jelasin. Madyapadma adalah ekstrakulikuler jurnalistik yang ada di SMAN 3 Denpasar. Di sini kita nggak cuma diajarin tentang jurnalistik. Ada banyak bidang mulai dari audiovisual buat yang suka buat film atau video, penelitian buat yang suka neliti, radio untuk kalian yang suka ngomong, redaksi buat kalian yang pengen jadi reporter, multimedia, online, buku, dan usaha. Banyak kaan?

Di Madyapadma aku milih bidang penelitian atau technopreneur. Aku tertarik sama bidang ini karena aku sempat dengar kabar kalau ada anak Trisma yang ke Amerika karena penelitiannya. Nggak nyangka aku bisa ketemu langsung sama mereka yaitu kak Cok Ami sama Kak Intan. Jadiiii aku pengen tahu lebih jauh tentang bagaimana cara meneliti dan segala hal tentang penelitian. Aku ini orang awam. Bukan juga anak KIR saat SMP. Benar benar tidak tahu harus bagaimana membuat karya tulis. Jadi aku pikir, bidang ini akan sangat membantu.

Kakak kelas pertama yang aku kenal di MP adalah kak Raka. Jelas karena memang dia masih ada hubungan saudara sama aku wkwk. Setelah itu aku kenalan sama Kak Adnya. Kak Adnya juga baik bangettt. Aku inget minggu pertama ekstra, MP ngadain kegiatan outbond pertama. Seruuu banget!! Kita ngisi TTS gitu. Terus kita main games dan nyanyi nyanyi bareng. Waktu itu aku belum hafal lirik, belum tau nada, tapi gapapa. Yang penting nyanyi yuhuu.

Ada 2 pengalaman paling berkesan selama setahun aku jadi anak MP. 

Pertama Ekspedisi jelajah sepeda pesisir timur Bali. Ini kegiatan yang mantap banget pokoknya. Awalnya aku pengen ikut dari etape awal sampai akhir. Tapi karena ibuku nggak mengizinkan, jadi aku ikut etape terakhir deh, dari Serangan sampai ke Trisma.

Pagi pagi aku udah menuju serangan sambil bawa sepeda. Kita disana sarapan dulu, terus pemanasan dan dengerin pengarahan. Asik banget bisa sepedaan bareng sama kakak kakak dan temen temen. Pakai helm dengan gagahnya, masker dan baju khas pesepeda. Di perjalanan sempat ngos-ngosan karena udah lama nggak pernah naik sepeda lagi huahaha. Kita sempat berhenti dulu di lapangan puputan untuk istirahat. Waktu itu rencana pak walikota mau ketemu sama kita. Tapi batal karena beliau berhalangan. Akhirnya kita melanjukan perjalanan. Tim pesepeda sampai di sekolah dengan selamat. Rasa Lelah terbayarkan!! Lucunya, warga sekolah yang datang menyambut kita itu seperti nyambut artis artis. Mereka ramai ngumpul di depan gerbang sekolah dengan wajah sumringah nyambut kedatangan kita. Ada rasa bangga ketika melihat mereka menyemangati kami.

Pengalaman kedua adalah saat Presslist 8. Mungkin ada dari kalian yang belum tahu sama sekali tentang presslist. Jadi presslist adalah singkatan dari apresiasi sineas dan journalist. Presslist ini salah satu event terbesar MP.

Ada apa aja sih di Presslist?

Banyak banget! Kita mengadakan lomba kording, fotografi, majalah, lomba resensi buku, lomba blog, pelatihan + lomba karikatur. Yang special di Presslist tahun ini adalah ada deklarasi petisi dan book fair.

Persiapan presslist ini udah kita lakukan sekitar dua atau tiga bulan. Aku ingat, setiap istirahat di kelas, aku nyuruh teman teman buat nggak ngebuang botol minum yang mereka beli di kantin. Lalu aku ngumpulin botol botol itu dalam satu kresek merah besar untuk piket barang bekas. Kita juga jual makanan dan minuman di Renon setiap hari Minggu. And it was fun! Hahaha
h-3 Presslist, aku dan temen temen 40 di sekolah buat mempersiapkan semuanya. aku ikut ngambil peran kecil di Presslist. Ikut ngangkat kursi dari ruang pertemuan ke workshop, nyapu nyapu, nempel foto untuk pameran, ngirim surat ke sekolah sekolah, dan juga ngecap surat yang banyaaaak banget.

Tiba hari H Presslist, kita semua sibuk di bagian masing masing. Waktu itu aku menjadi ketua kesekretariatan umum bareng sama Renita dan Gung ayu. Koorku yaitu kak Umik dan Kak Cok Ti. Aku dapat bagian untuk jaga pendaftaran atau registrasi ulang, juga ngasi konsumsi ke peserta yang datang.  

Presslist pun berjalan dengan lancar dari hari pertama sampai hari kedua. Rasanya bangga sekali ketika acara itu bisa berjalan dengan baik walaupun msih banyak kekurangan. Wajah wajah letih berubah riang ketika akhir acara dan kita semua joget dengan musik remix yang menghentak. Acara kami sukses!! 

Wajah wajah sumringah seusai Presslist.
  
Malamnya dengan perut sudah sangat kroncongan, kami membentuk lingkaran besar di lapangan. Mendapat  giliran pembagian nasi jinggo dan air aqua wkwkwk.
Aku seneng banget, haru, bangga, bercampur jadi satu. Suasana kekeluargaan di aku sangat kental. Mungkin benar bahwa bahagia itu sederhana. Sesederhana makan nasi jinggo di malam hari bersama teman dan kakak kakak lain. Tertawa bersama di bawah sunyinya langit malam.

Banyak pelajaran dan pengalaman yang aku dapat selama setahun di Madyapadma.

Aku belajar bahwa kita nggak perlu membentak untuk dihormati.
Hanya di Madyapadma aku benar benar merasa dihargai sebagai adik kelas. Tidak ada senioritas sama sekali. Kita semua sama. Kakak kakak 38 dan 39 juga baik sekali. Mereka sama sekali nggak pernah membentak, memarahi, atau memasang wajah sok tekek supaya di hormati adik kelasnya. Sikap mereka selama ini ramah dan selayaknya teman, kita bisa bercanda dengan santai tanpa takut esok hari bakal dilabrak.

Hanya di Madyapadma, pulang malam itu sudah seperti makanan sehari hari. Tapi pulang malam disini berfaedah yaa. Masing masing punya hal penting yang harus dikerjakan. Entah lomba, mengerjakan penelitian, atau lain lain. Aku juga merasa MP seperti rumah kedua. Di ruang prajna paramitha, entah kenapa aku ngerasa nyaman. Nggak ada rasa cemas untuk diam lama lama disana, atau bahkan numpang tidur. Rasanya nggak bisa dideskripsikan!

Hanya di Madyapadma, aku bisa ketemu pembimbing sekeren kak Ananta. Buat aku, kak Ananta bukan sekedar pembimbing, beliau juga bisa jadi teman juga ayah. Jujur, ngobrol dengan kak Ananta itu menyenangkan. Aku bisa berbicara topik apa saja. Dibalik penampilannya yang khas, di mataku, kak Ananta itu coach yang paling luar biasa. Pokoknya ketje!!

Di Madyapadma aku belajar bahwa nggak ada perjuangan yang nggak membuahkan hasil. Aku belajar kalau apapun bisa kita capai dengan kerja keras, ulet, dan mau terus belajar. Walaupun mungkin hal itu kelihatan mustahil buat kita lakukan.

Dan hanya di Madyapadma aku mengerti, suatu organisasi itu sukses bukan karena satu dua orang. Tapi karena semuanya saling bekerja sama, kompak, mau menyatu satu dengan yang lainnya. Seperti Presslist. Presslist nggak akan terselenggara dengan baik kalau hanya angkatan 39 yang bekerja, atau hanya angkatan 40 yang bekerja. Semua itu karena kita bersatu.

Sebenarnya, masih banyak lagi pengalaman seru di Madyapadma yang mau aku ceritain. Tapi akan sangat panjang kalau aku tulis semua di sini hehe.

Intinya aku seneng bisa jadi bagian dari Madyapadma, semoga kita semua selalu kompak, semakin solid dan bisa banggain Trisma!

Tetap jadi MP yang sederhana tapi selalu berpikir kreatif dan terus berprestasi

 

1..2..3..MP TRISMAAAAAAA!!!!