What are you looking for?

Monday, October 31, 2016

Seperti Kemarin


Ayah…
 
Masih erat di ingatanku

Wajah pucat mu terbaring lemah tak berdaya

Dengan alat- alat dan selang menempel di tubuhmu

Entah di mana jiwamu berada

Bersama senja, nafas terakhirmu kau hembuskan

Kala itu ingin rasanya aku mengutuk waktu

Atas sukma yang ia renggut


Aku merindu sosokmu

Seperti gersang yang merindu hujan


Kita bukan lagi terpisah oleh jarak

Kita dipisahkan oleh semesta


Ayah..

Lihatlah aku..

Darah daging yang dahulu mungil ini

Kini telah menjadi gadis yang jelita

Tujuh tahun berlalu seperti kemarin

Hari-hari yang kulewati tak lagi sama

seperti saat kau masih di sini

Pigura dan album usang menjadi saksi bisu

Seorang pria hebat pernah terlahir di dunia ini 


Ayah...

Jika reinakarnasi sungguh ada 
  
ketahuilah bahwa aku tak pernah menyesal menjadi anakmu

Sampai bertemu lagi di keabadian!



Sunday, October 30, 2016

Broken Promise


“Ya..ya halo halo. Bisa kau dengar suaraku?” dari ujung sana, seseorang dengan tekad yang kuat sedang berjuang untuk mendapat sinyal. Jam tanganku meunjukan pukul 02:00 dini hari dan laki-laki ini masih setia menemaniku. 

“Ya, aku mendengarnya. Sudah tidak terputus. Kau memang pejuang sinyal yang gigih, Sam.” Jawabku tertawa sambil memiringkan tubuhku ke samping. Merebahkan diri mecari kehangatan dalam dinginnya salju Deseber. 

“ Apapun untukmu, tuan putri.”

“Ini bukan saatnya menggoda, bodoh,” sahutku, lalu menarik selimut tebal bergambar beruang kutub . kupikir salju akan mencair menjelang pagi, menyisakan sedikit kehangatan untukku. Namun dugaanku salah. Ini bahkan nyaris membuat teh panasku berubah menjadi es teh. Kemudian aku melanjutkan, “ Kau mau mendengar ceritaku, Sam?” tanyaku. Di ujung sana, aku mendengar nada antusias.

“Begini. Dahulu aku pernah meminta pada seorang pria. Permintaan yang kuajukan begitu  sederhana. Aku memintanya agar pada hari ulangtahunku, ia merayakannya bersamaku. Ia mengangguk lemah. Kau tahu, aku sangaaaat bahagia atas anggukannya. Aku mencemaskannya lebih dari apapun. Hatiku dipenuhi oleh ribuan harapan yang menggatung. Kuharap ia datang ke pestaku. Memelukku dan menciumku. Karena aku begitu mencintainya.”

“ Lalu.. apa pria itu datang? –eh hei! Kau bahkan tak pernah bercerita padaku jika kau pernah menyukai laki-laki! Kau tahu Jena, aku ini ahli menyimpan rahasia. You’ll never met a very very nice guy like me anymore Jey,” Sam menggerutu. Ah laki-laki ini memang selalu saja mampu membuatku kesal dan senang disaat bersamaan. Menyebalkan sekali.

“ Diamlah, Sam. Karena ceritaku belum berakhir dan dengar. AKU WANITA NORMAL! Kutekankan sekali lagi, AKU-WANITA-NORMAL!” aku berdecak kesal. Dia pikir aku wanita penyuka sesama jenis.

“ Hari terus berlalu dan ia tetap tak kunjung membaik. Kasur putih itu masih menjadi rumahnya. Saat kupegang tangannya, yang kurasakan hanya tulang berlapis kulit tipis –tanpa daging. Wajah pria itu menua. Begitu terpampang nyata dalam benakku saat raganya masih sehat. Tapi asaku tak putus. Aku masih terus merjutnya hingga benang itu habis. Aku masih berharap ia datang saat umurku bertambah dan memberikan kado beruang besar. Dan hari itu tiba. Dua bulan tepat setelah aku megajukan permintaan itu. Kau tahu Sam, apa yang terjadi?” 

Memori itu seketika berputar di kepalaku. Memutar setiap kejadian tanpa ada satupun yang terlewat. Sesak itu perlahan menghampiri dadaku dan terus menekanku. 

“ Apa yang terjadi?” tanya Sam.

“ Ia mengingkarinya! Ia mengingkari janjinya bahkan sehari sebelum ulang tahunku. Ia lebih memilih meninggalkan raganya di bumi ini dan pergi menembus awan. Tanpa sempat terucap kata perpisahan dari bibirnya. Saat itu aku sadar, tahun lalu adalah perayaan ulang tahun terakhirku bersamanya…”

Hening memberikan jeda sejenak di antara aku dan Sam.

“ Siapa pria itu?” dengan ragu-ragu, Sam bertanya. 

“ Ayahku.”