“Ya..ya
halo halo. Bisa kau dengar suaraku?” dari ujung sana, seseorang dengan tekad
yang kuat sedang berjuang untuk mendapat sinyal. Jam tanganku meunjukan pukul
02:00 dini hari dan laki-laki ini masih setia menemaniku.
“Ya, aku mendengarnya. Sudah tidak
terputus. Kau memang pejuang sinyal yang gigih, Sam.” Jawabku tertawa sambil
memiringkan tubuhku ke samping. Merebahkan diri mecari kehangatan dalam dinginnya
salju Deseber.
“
Apapun untukmu, tuan putri.”
“Ini bukan saatnya menggoda, bodoh,” sahutku, lalu menarik selimut tebal
bergambar beruang kutub . kupikir salju akan mencair menjelang pagi, menyisakan
sedikit kehangatan untukku. Namun dugaanku salah. Ini bahkan nyaris membuat teh
panasku berubah menjadi es teh. Kemudian aku melanjutkan, “ Kau mau mendengar
ceritaku, Sam?” tanyaku. Di ujung sana, aku mendengar nada antusias.
“Begini. Dahulu aku pernah meminta
pada seorang pria. Permintaan yang kuajukan begitu sederhana. Aku memintanya agar pada hari
ulangtahunku, ia merayakannya bersamaku. Ia mengangguk lemah. Kau tahu, aku
sangaaaat bahagia atas anggukannya. Aku mencemaskannya lebih dari apapun. Hatiku
dipenuhi oleh ribuan harapan yang menggatung. Kuharap ia datang ke pestaku. Memelukku
dan menciumku. Karena aku begitu mencintainya.”
“ Lalu.. apa pria itu datang? –eh
hei! Kau bahkan tak pernah bercerita padaku jika kau pernah menyukai laki-laki!
Kau tahu Jena, aku ini ahli menyimpan rahasia. You’ll never met a very very nice guy like me anymore Jey,” Sam
menggerutu. Ah laki-laki ini memang selalu saja mampu membuatku kesal dan
senang disaat bersamaan. Menyebalkan sekali.
“
Diamlah, Sam. Karena ceritaku belum berakhir dan dengar. AKU WANITA NORMAL! Kutekankan
sekali lagi, AKU-WANITA-NORMAL!” aku berdecak kesal. Dia pikir aku wanita penyuka
sesama jenis.
“ Hari terus berlalu dan ia tetap
tak kunjung membaik. Kasur putih itu masih menjadi rumahnya. Saat kupegang
tangannya, yang kurasakan hanya tulang berlapis kulit tipis –tanpa daging. Wajah
pria itu menua. Begitu terpampang nyata dalam benakku saat raganya masih sehat.
Tapi asaku tak putus. Aku masih terus merjutnya hingga benang itu habis. Aku masih
berharap ia datang saat umurku bertambah dan memberikan kado beruang besar. Dan
hari itu tiba. Dua bulan tepat setelah aku megajukan permintaan itu. Kau tahu
Sam, apa yang terjadi?”
Memori
itu seketika berputar di kepalaku. Memutar setiap kejadian tanpa ada satupun
yang terlewat. Sesak itu perlahan menghampiri dadaku dan terus menekanku.
“ Apa yang terjadi?” tanya Sam.
“ Ia mengingkarinya! Ia mengingkari
janjinya bahkan sehari sebelum ulang tahunku. Ia lebih memilih meninggalkan
raganya di bumi ini dan pergi menembus awan. Tanpa sempat terucap kata
perpisahan dari bibirnya. Saat itu aku sadar, tahun lalu adalah perayaan ulang
tahun terakhirku bersamanya…”
Hening
memberikan jeda sejenak di antara aku dan Sam.
“
Siapa pria itu?” dengan ragu-ragu, Sam bertanya.
“
Ayahku.”