“ Apa kau menyukaiku?
”
Laki
laki itu bertanya pada gadis yang sedang bersamanya di bawah langit senja yang
menjingga bulan Januari. Akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibirnya,
setelah sekian lama ia pendam. Setelah muncul suatu keyakinan bahwa gadis itu
akan menjawab ‘Ya’ pada pertanyaan bodoh itu. Ia bertanya karena ia harus. Ia
takut satu kesalahan fatal akan menghancurkan segala pengorbanan nya pada dia. Dia yang sudah mengisi hatinya selama
tiga ratus-enam puluh-lima-hari lamanya.
Mata
gadis itu membelalak; terkejut. Pertanyaan itu membuat detak jantungnya
meningkat sepuluh kali lebih kencang. Alasan nya pun ia tak tahu.mungkin lebih
seperti orang sakit yang tiba tiba difonis akan mati dua minggu lagi oleh
dokter spesialisnya. Ia mencium sesuatu aneh pada pertanyaan yang dilontarkan
oleh laki laki di hadapannya. Lalu
dengan cepat gadis itu menjawab “ Tentu saja tidak, idiot!”
Kemudian
ia melanjutkan “ Kau ini aneh aneh saja “. Terdengar tawa datar gadis itu yang
kemudian memalingkan wajahnya ke samping kiri. Sesungguhnya, ia tak benar benar
tertawa.
Ia
takut.
Takut
kalau dalam suaranya terdengar nada keraguan dan telinga laki laki itu
menangkapnya.
“
Oh. Syukurlah…” . Laki laki itu menghembuskan nafas lega.
“
Bukankah kau sudah tahu itu? “ berusaha
mengubah ekspresinya agar tetap tenang, gadis itu menatapnya dengan memerkan
senyum lebarnya. Tertawa kecil.
“
Tapi, bercandamu itu keterlaluan.”
Senyum gadis itu memudar perlahan-lahan.
Ia tak mengerti apa makna dibalik kata ‘keterlaluan’ itu. Yang ia tahu,
perlakuan nya pada lelaki itu sama dengan perlakuan nya pada semua teman laki
laki nya. Tak ada yang salah. Tak ada yang perlu dipertanyakan. Lalu, mengapa
bercanda itu salah? Gadis itu ingin marah. Memukul lengan laki laki dengan bahu
tegap dihadapan nya, seperti biasa. Namun, hatinya menyuruh untuk tetap
mempertahankan kondisi dingin otaknya. Banyak kata yang ingin ia lontarkan.
Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan balik. Lagi lagi, ia hanya memilih
berkata
“ Baiklah. Aku akan berhenti mencandaimu lagi.” Kemudian jari telunjuknya, ia
tempelkan pada ibu jari yang membentuk huruf ‘O’ yang berarti Ok.
Buru
buru laki laki itu menenangkan gadis di hadapannya. Wajahnya sedikit panik dan
berkeringat.
“
Bukan begitu. Maksudku— umm.. silahkan katakan apa yang ingin kau katakan.
Lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku. Aku sama sekali tak melarang.” Ia
memberikan sedikit jeda lalu melanjutkan, “ tetapi, maaf. Aku tak bisa
melakukan hal yang sama, seperti apa yang kau lakukan, Eleanor.”
Perkataan laki laki itu terdengar
berbeda di indra pendengarannya. Dan angin yang berhembus membisikkan kalimat ambigu. Menyebutkan bahwa ia sedang berada di antara
hitam dan putih. Apakah ia gadis abu abu yang menjadi sebuah jeda –untuk kedua
kalinya?
Ia
mulai mengerti kemana arah jalan pembicaraan laki laki itu. Dan ia tak bisa
berkelit lagi. Eleanor merasa seperti nafasnya tertahan. Tak pernah sekalipun
ia menuntut apa apa. Tak pernah ia meminta balasan untuk hal yang sama terhadap
dirinya. Eleanor tahu batas mana yang tak boleh ia langgar.
Di matanya, Josh adalah laki laki
terbaik yang pernah ia temui. Lelaki tempatnya berbagi cerita suka duka
hidupnya. Teman seperjuangan saat berlomba untuk organisasi yang begitu ia banggakan.
Lelaki tersabar yang paling bisa menenangkan orang se-egois dan si pemarah
seperti dirinya. Penasehat terbijak dalam setiap permasalahan yang ia hadapi.
Juga orang yang selalu ada untuknya 24/7.
“
Pernahkah aku menyuruhmu untuk melakukan hal yang sama, hm? Tidak pernah,
bukan?” ia menaikkan sebelah alisnya.
Laki
laki itu diam seribu bahasa.
“
Kupikir kita hanya teman— karena aku menganggapmu begitu, Josh. Aku tahu
batasku.” Pandangan Eleanor bergerak ke arah lain. Ia tak berani menatap mata
hitam Josh. Mata yang akan terus membuatnya mengakui kebenaran.
“Tolong
jangan salah paham. Kau sahabat terbaik yang pernah aku punya. Hanya saja –aku
ingin menjaga perasaan nya. Aku
mencintai nya, Eleanor. Sangat.” Ia
harus mengatakan nya sebelum terlalu jauh. Dan detik ini, ia berhasil. Ia tahu
gadis di depan nya sangat tersinggung dengan perkataan nya. mungkin sekarang
perasaannya sudah berubah menjadi serpihan gelas yang pecah.
“
Aku mengerti.” Ia mengangguk. Membenarkan posisi rambutnya yang berlalu lalang
di wajahnya akibat terpaan angin.
“
Jangan pernah jatuh cinta padaku. Jangan pernah. “ Josh menatap Eleanor lekat.
Suara laki laki itu melemah. Sangat kecil. Namun gelombangnya tetap sampai pada
telinga Eleanor. “Ja-ngan...” laki laki itu tertunduk.
Jangan pernah jatuh
cinta padaku…
“
Mengapa?”
Suaranya sedikit bergetar. Namun ia
berdeham untuk mengalihkan perasaan canggung yang sedang menyelimuti keduanya. Buram
di pelupuk matanya sudah tak tertahankan. Genangan air mata terus memenuhi
kantung mata Eleanor. Sebentar lagi air itu akan jatuh. Namun ia tak akan
membiarkan nya terjatuh di depan Josh. Tidak akan.
Laki laki itu tak boleh melihatnya
menangis. Josh hanya boleh tahu bahwa sekarang ia baik baik saja. bahwa
sekarang kakinya masih kuat berpijak, dan hatinya –hatinya masih utuh. Dan akan
terus utuh.
“
Karena aku hanya akan menjadi cactus-mu.”
…dan
saat itu juga Eleanor membiarkan air matanya— terjatuh.
—D.M.

No comments:
Post a Comment
Leave a footstep! I'd love to know what you think ;)