Kota
Denpasar sebagai pusat dari segala aktivitas masyarakat Bali, pastinya mengalami
masalah yang berkaitan dengan kebersihan sungai. Sungai yang penuh sampah dan
bau menyengat seakan menjadi pemandangan yang biasa bagi masyarakat. Ini bukanlah masalah sepele
yang bisa dipandang sebelah mata. Permasalahan ini patut menjadi perhatian serius
warga Bali.
Salah
satu faktor penyebab masalah kebersihan sungai adalah sampah dan limbah. Sampah
yang dibuang beragam jenis. Sebagian besar adalah sampah plastik yang tidak dapat
terurai. Selain sampah, oknum - oknum tidak bertanggung jawab seperti industri
tekstil, juga membuang limbah ke sungai tanpa melalui proses filtrasi atau
pengolahan terlebih dahulu.
Berbagai penyakit dapat timbul
yang disebabkan oleh bakteri seperti diare, muntaber, tifus, bahkan demam
berdarah dan lain-lain, akibat tidak bersihnya lingkungan di sekitar sungai
yang tercemar sampah. Selain itu, sarang nyamuk akan timbul apabila sampah botol
di pinggir sungai digenangi air. Penggunaan fungsi sungai secara bersamaan
seperti keperluan mandi, cuci, kakus dan keperluan memasak dapat menimbulkan
masalah kesehatan karena air tersebut sudah terkontaminasi dengan berbagai
bahan kimia ataupun bakteri dari tinja.
Lelah dengan segala permasalahan
tentang sungai kotor di Bali, saya iseng
membuka internet untuk mencari informasi, apakah sudah ada penanganan terhadap
masalah ini. Tak sengaja, saya membaca
artikel tentang inovasi daerah yang dilakukan oleh walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya
Mantra untuk mengubah sungai kotor menjadi tempat rekreasi. Tertarik dengan
inovasi tersebut, saya bertanya kepada pembimbing ekstrakulikuler saya, Kak
Ananta. Entah… mungkin suatu kebetulan, beliau mengatakan kalau ada sebuah DAM
bernama DAM Oongan yang terkenal ‘tenget’
telah berubah menjadi taman indah dengan
jogging track. Seketika, muncul ide
di kepala saya. Saya ingin mencari kebenaran tentang taman itu. Saat itu juga,
saya langsung memutuskan pulang untuk mencari informasi tentang tempat yang
dimaksud.
Malam harinya, saya sibuk browsing google dan akhirnya mendapatkan
alamat lengkap DAM Oongan yaitu di . Bersama teman saya, Noni Artini,
saya menuju DAM tersebut pukul 09:30 pagi. Tiba di sana, saya kebingungan
karena DAM itu tidak seperti yang dikatakan pembimbing saya. Kondisinya sama
persis seperti gambar yang saya lihat di internet, tidak ada taman maupun jogging track .
![]() |
| DAM Oongan |
“ Di mana tamannya, ya?” tanya
saya kepada Noni sambil melihat keadaan sekeliling.
Tak mau ambil pusing, saya buru
buru menelepon Kak Ananta. “ Jogging
tracknya di pinggir sungai, ke selatan. Coba lihat - lihat saja di situ,”
begitu jawabnya. Kami lalu menengok ke arah selatan, tapi yang ada hanyalah
semak semak yang rimbun. Kami hampir putus asa. Tiba tiba ada seorang bapak berbaju
putih menghampiri kami.
“Kenapa dik?” tanyanya melihat wajah anak muda
yang sedari tadi celingak-celinguk.
Saya langsung menjelaskan maksud kedatangan kami.
“ Di sini, saya dengar informasi
katanya ada jogging track ya, Pak?"
Bapak itu menjelaskan bahwa ada jogging track di dekat DAM Oongan ini. Kami disuruh berjalan mengikuti jalan
setapak yang ada di seberang sana. Nanti kami akan menemui jalan berpaving yang
mengarah ke taman itu. Segera kami menuruni anak tangga menuju tempat yang
dimaksud. Kira - kira 200 meter berjalan, tidak kami temui jalan berpaving itu.
Yang kami lihat adalah DAM tua berkarat yang nampak tak terurus. Dengan
pemandangan kanan kiri adalah pepohonan rimbun. Bisa dibilang menyeramkan.
![]() |
| Kondisi cabang arus air DAM Oongan yang berkarat dan pepohonan yang rimbun |
Karena suasana yang membuat bulu
kuduk kami naik, Noni mengajak saya untuk kembali ke tempat sebelumnya.
Setibanya di depan DAM Oongan, kami lagi - lagi bertemu dengan bapak berbaju
putih itu. “ Loh, kok balik?”
tanyanya. “Kami nggak ketemu jalan
berpavingnya, Pak,” jawab saya. Bapak itu kemudian berkata bahwa ada jalan alternative
lain untuk menuju ke sungai tersebut. Dengan melewati pertigaan sebanyak dua
kali, nantinya kami akan sampai di Banjar Abianangka Kelod. Berbekal sedikit
informasi dari bapak itu, kami langsung meluncur ke sana.
Benar saja, akhirnya kami tiba
di sebuah banjar bernama Banjar Abianangka Kelod. Saya kemudian bertanya kepada seorang ibu -
ibu. Namun sayang, ia tidak tahu lokasi yang kami maksud. Beberapa langkah dari
banjar, ada sebuah jalan tikus seperti yang dimaksud bapak berbaju putih itu.
Saya dan Noni menyusuri jalan sempit itu. Di ujung jalan, saya melihat secercah cahaya. Sampailah kami di taman itu
.Saya tersenyum sumringah melihat apa yang ada di hadapan saya saat itu.
Ternyata, tak banyak orang yang tahu
tentang surga yang terselip di ujung kota. Saya benar benar takjub, bahwa masih
ada sungai seindah ini di Denpasar. Tanaman hias berwarna warni menghiasi sisi
kanan dan kiri ‘anak’ dari DAM Oongan ini. Tak ada kesan
menyeramkan sama sekali. Semak semak yang dulunya tumbuh rimbun di kanan dan
kiri sungai, oleh warga ,telah disulap menjadi taman yang sejuk.
![]() |
| 'Anak' DAM Oongan yang telah berubah menjadi taman indah. |
Jalan
setapak yang sebelumnya masih dari tanah telah dipaving rapi yang sekarang
dimanfaatkan warga sebagai jogging track.
Walau pengerjaan jalan berpaving ini belum selesai secara keseluruhan, namun
perbedaannya terlihat amat mencolok. Warga mendesain sungai ini, tidak hanya
sekedar sebagai tempat air mengalir, namun juga menjadi tempat bersantai seperti
yang saya lihat ketika tiba di sana, sekumpulan kakek kakek duduk sambil bercengkrama.
Hal
yang mengejutkan saya adalah terdapat tempat bermain untuk anak-anak seperti
ayunan, putar - putaran bahkan perosotan. Keren bukan?
Pengelolaan sampahnya pun teratur. Warga
membagi sampah tersebut ke dalam tiga jenis, terlihat dari warna tong sampah
yang digunakan yaitu hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah anorganik,
dan merah untuk sampah kaca. Terdapat juga plang yang berdiri tegak, memampang
tulisan berisi larangan membuang sampah di sungai dan jika ketahuan maka akan
didenda sebesar Rp500.000. Di sisi lain, saya melihat beberapa warga masih
menggunakan air sungai untuk mandi dan
mencuci pakaian. Terbukti bahwa sungai bisa beralih fungsi menjadi taman
yang mengasyikkan. Jika sudah begini, siapa yang diuntungkan?
![]() |
| Warga yang menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian. |
![]() |
| Jalan berpaving, kursi santai, dan sungai yang bersih. |
Menurut
saya, inovasi sungai kotor menjadi taman ini sangat perlu disosialisasikan ke
masyarakat luas. Desa Abianangka Kelod ini dapat menjadi panutan bagi desa lain
di Bali untuk lebih peka terhadap isu - isu lingkungan. Saya salut dengan
kekompakan warga dalam membantu mewujudkan program pemerintah yaitu Bali Clean
and Green. Selain itu, banyak manfaat yang bisa didapat bila sungai kita
bersih. Pertama, akan menaikkan angka harapan hidup masyarakat karena tingkat
kesehatan yang baik. Kedua, dapat menambah pendapatan warga sekitar bila sungai
itu dibuka untuk tempat rekreasi umum.
Bagi
masyarakat yang masih berpikir “ah, ini hanya sampah permen kecil, buang saja
ke sungai. Bukan karena sampah permen ini, sungai menjadi banjir,” berhentilah!
Jika mindset seperti itu terus
menerus diterapkan, sampai kapanpun sungai bersih itu tak akan terwujud. Tidak
peduli seberapapun banyaknya peraturan yang dibuat, seberapapun beratnya sanksi
yang diberikan, tetap tidak akan efektif bila tidak didukung oleh masyarakat
itu sendiri. Ini bumi Bali kita bersama. Kitalah yang mempunyai kewajiban untuk
menjaganya. Jika bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?




