What are you looking for?

Tuesday, August 30, 2016

Pemasangan Paving di Sungai, Inovasi Jadikan Denpasar Lebih Menawan



         Kota Denpasar sebagai pusat dari segala aktivitas masyarakat Bali, pastinya mengalami masalah yang berkaitan dengan kebersihan sungai. Sungai yang penuh sampah dan bau menyengat seakan menjadi pemandangan yang biasa  bagi masyarakat. Ini bukanlah masalah sepele yang bisa dipandang sebelah mata. Permasalahan ini patut menjadi perhatian serius warga Bali.

Salah satu faktor penyebab masalah kebersihan sungai adalah sampah dan limbah. Sampah yang dibuang beragam jenis. Sebagian besar adalah sampah plastik yang tidak dapat terurai. Selain sampah, oknum - oknum tidak bertanggung jawab seperti industri tekstil, juga membuang limbah ke sungai tanpa melalui proses filtrasi atau pengolahan terlebih dahulu. 

Berbagai penyakit dapat timbul yang disebabkan oleh bakteri seperti diare, muntaber, tifus, bahkan demam berdarah dan lain-lain, akibat tidak bersihnya lingkungan di sekitar sungai yang tercemar sampah. Selain itu, sarang nyamuk akan timbul apabila sampah botol di pinggir sungai digenangi air. Penggunaan fungsi sungai secara bersamaan seperti keperluan mandi, cuci, kakus dan keperluan memasak dapat menimbulkan masalah kesehatan karena air tersebut sudah terkontaminasi dengan berbagai bahan kimia ataupun bakteri dari tinja.

Lelah dengan segala permasalahan tentang sungai kotor di Bali, saya iseng membuka internet untuk mencari informasi, apakah sudah ada penanganan terhadap masalah ini. Tak sengaja, saya  membaca artikel tentang inovasi daerah yang dilakukan oleh walikota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra untuk mengubah sungai kotor menjadi tempat rekreasi. Tertarik dengan inovasi tersebut, saya bertanya kepada pembimbing ekstrakulikuler saya, Kak Ananta. Entah… mungkin suatu kebetulan, beliau mengatakan kalau ada sebuah DAM bernama DAM Oongan yang terkenal ‘tenget’  telah berubah menjadi taman indah dengan jogging track. Seketika, muncul ide di kepala saya. Saya ingin mencari kebenaran tentang taman itu. Saat itu juga, saya langsung memutuskan pulang untuk mencari informasi tentang tempat yang dimaksud. 

Malam harinya, saya sibuk browsing google dan akhirnya mendapatkan alamat lengkap DAM Oongan yaitu di . Bersama teman saya, Noni Artini, saya menuju DAM tersebut pukul 09:30 pagi. Tiba di sana, saya kebingungan karena DAM itu tidak seperti yang dikatakan pembimbing saya. Kondisinya sama persis seperti gambar yang saya lihat di internet, tidak ada taman maupun jogging track .
 
DAM Oongan
“ Di mana tamannya, ya?” tanya saya kepada Noni sambil melihat keadaan sekeliling. 

Tak mau ambil pusing, saya buru buru menelepon Kak Ananta. “ Jogging tracknya di pinggir sungai, ke selatan. Coba lihat - lihat saja di situ,” begitu jawabnya. Kami lalu menengok ke arah selatan, tapi yang ada hanyalah semak semak yang rimbun. Kami hampir putus asa. Tiba tiba ada seorang bapak berbaju putih menghampiri kami.

 “Kenapa dik?” tanyanya melihat wajah anak muda yang sedari tadi celingak-celinguk. Saya langsung menjelaskan maksud kedatangan kami.

“ Di sini, saya dengar informasi katanya ada jogging track ya,  Pak?"

Bapak itu menjelaskan bahwa ada jogging track di dekat DAM Oongan ini. Kami disuruh berjalan mengikuti jalan setapak yang ada di seberang sana. Nanti kami akan menemui jalan berpaving yang mengarah ke taman itu. Segera kami menuruni anak tangga menuju tempat yang dimaksud. Kira - kira 200 meter berjalan, tidak kami temui jalan berpaving itu. Yang kami lihat adalah DAM tua berkarat yang nampak tak terurus. Dengan pemandangan kanan kiri adalah pepohonan rimbun. Bisa dibilang menyeramkan. 

Kondisi cabang arus air DAM Oongan yang berkarat dan pepohonan yang rimbun
Karena suasana yang membuat bulu kuduk kami naik, Noni mengajak saya untuk kembali ke tempat sebelumnya. Setibanya di depan DAM Oongan, kami lagi - lagi bertemu dengan bapak berbaju putih itu. “ Loh, kok balik?” tanyanya. “Kami nggak ketemu jalan berpavingnya, Pak,” jawab saya. Bapak itu kemudian berkata bahwa ada jalan alternative lain untuk menuju ke sungai tersebut. Dengan melewati pertigaan sebanyak dua kali, nantinya kami akan sampai di Banjar Abianangka Kelod. Berbekal sedikit informasi dari bapak itu, kami langsung meluncur ke sana. 

Benar saja, akhirnya kami tiba di sebuah banjar bernama Banjar Abianangka Kelod.  Saya kemudian bertanya kepada seorang ibu - ibu. Namun sayang, ia tidak tahu lokasi yang kami maksud. Beberapa langkah dari banjar, ada sebuah jalan tikus seperti yang dimaksud bapak berbaju putih itu. Saya dan Noni menyusuri jalan sempit itu. Di ujung jalan, saya melihat  secercah cahaya. Sampailah kami di taman itu .Saya tersenyum sumringah melihat apa yang ada di hadapan saya saat itu. 

Ternyata, tak banyak orang yang tahu tentang surga yang terselip di ujung kota. Saya benar benar takjub, bahwa masih ada sungai seindah ini di Denpasar. Tanaman hias berwarna warni menghiasi sisi kanan dan kiri ‘anak’ dari DAM Oongan ini. Tak ada kesan menyeramkan sama sekali. Semak semak yang dulunya tumbuh rimbun di kanan dan kiri sungai, oleh warga ,telah disulap menjadi taman yang sejuk.

'Anak' DAM Oongan yang telah berubah menjadi taman indah.
Jalan setapak yang sebelumnya masih dari tanah telah dipaving rapi yang sekarang dimanfaatkan warga sebagai jogging track. Walau pengerjaan jalan berpaving ini belum selesai secara keseluruhan, namun perbedaannya terlihat amat mencolok. Warga mendesain sungai ini, tidak hanya sekedar sebagai tempat air mengalir, namun juga menjadi tempat bersantai seperti yang saya lihat ketika tiba di sana, sekumpulan kakek kakek duduk sambil bercengkrama.

Hal yang mengejutkan saya adalah terdapat tempat bermain untuk anak-anak seperti ayunan, putar - putaran bahkan perosotan. Keren bukan?

 Pengelolaan sampahnya pun teratur. Warga membagi sampah tersebut ke dalam tiga jenis, terlihat dari warna tong sampah yang digunakan yaitu hijau untuk sampah organik, kuning untuk sampah anorganik, dan merah untuk sampah kaca. Terdapat juga plang yang berdiri tegak, memampang tulisan berisi larangan membuang sampah di sungai dan jika ketahuan maka akan didenda sebesar Rp500.000. Di sisi lain, saya melihat beberapa warga masih menggunakan air sungai untuk mandi dan  mencuci pakaian. Terbukti bahwa sungai bisa beralih fungsi menjadi taman yang mengasyikkan. Jika sudah begini, siapa yang diuntungkan? 


Warga yang menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian.

Jalan berpaving, kursi santai, dan sungai yang bersih.
Menurut saya, inovasi sungai kotor menjadi taman ini sangat perlu disosialisasikan ke masyarakat luas. Desa Abianangka Kelod ini dapat menjadi panutan bagi desa lain di Bali untuk lebih peka terhadap isu - isu lingkungan. Saya salut dengan kekompakan warga dalam membantu mewujudkan program pemerintah yaitu  Bali Clean and Green. Selain itu, banyak manfaat yang bisa didapat bila sungai kita bersih. Pertama, akan menaikkan angka harapan hidup masyarakat karena tingkat kesehatan yang baik. Kedua, dapat menambah pendapatan warga sekitar bila sungai itu dibuka untuk tempat rekreasi umum. 


Bagi masyarakat yang masih berpikir “ah, ini hanya sampah permen kecil, buang saja ke sungai. Bukan karena sampah permen ini, sungai menjadi banjir,” berhentilah! Jika mindset seperti itu terus menerus diterapkan, sampai kapanpun sungai bersih itu tak akan terwujud. Tidak peduli seberapapun banyaknya peraturan yang dibuat, seberapapun beratnya sanksi yang diberikan, tetap tidak akan efektif bila tidak didukung oleh masyarakat itu sendiri. Ini bumi Bali kita bersama. Kitalah yang mempunyai kewajiban untuk menjaganya. Jika bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi?  



 

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku